fbpx

Usaha Tas milik Tarmidi Terus Melaju

Oleh Reza Dwi Anggono
Penyuluh Perindustrian Kabupaten Tegal
Agaknya sulit disangkal bahwa dalam urusan gaya, kaum wanita-lah juaranya. Lelaki jelas kalah jauh kalau soal busana, penutup kepala, apalagi kosmetik dan pernak-pernik. Termasuk juga benda yang satu ini. Benda multiguna sebagai wadah, tempat membawa barang apapun kemana suka, Tas.

Peluang semacam inilah yang dengan jeli ditangkap oleh seorang Tarmidi. Memproduksi tas jinjing wanita atau gendong, memanfaatkan potongan kain batik atau yang lain. Unik, cantik dan estetik. “Saya tadinya terpikir ingin bikin kaos saja mas, tapi setelah saya pertimbangkan masak-masak, tak ada salahnya saya coba bikin tas saja. Kalau tas, selain belum ada saingan dan peminatnya, kaum wanita, pasti tidak sedikit. Alhamdulillah, bisa jalan sampai sekarang,” ujar Tarmidi, Warga Danawarih, bercerita tentang awal usahanya.

Tak jauh-jauh dari pengalamannya dahulu bekerja di sebuah perusahaan konveksi Korea, jalan hidup lelaki paruh baya ini sekarang bergulat dengan potongan kain dan mesin jahit. Sekitar 14 outlet di Pasar Wisata Guci dan 2 Supermarket Besar di Tegal, rutin meminta pasokan produk tas buah karya Tarmidi. Jumlahnya, dalam seminggu tak kurang dari 200 buah. Cukup lumayan untuk ukuran industri kelas rumahan.

Bukan perkara mudah menjadi seorang pengusaha. Apalagi berangkat dari status pekerja. Ada banyak tantangan dan kendala yang dihadapi. Begitu juga dengan pak Tarmidi. Hampir sepuluh tahun menekuni bisnis tas, masalah acap kali menghadangnya. Tenaga kerja misalnya. Selain mengandalkan keluarganya sendiri, Tarmidi memilih merangkul tetangga dekatnya untuk membantu pekerjaannya. Beliau pernah bermitra dengan rekannya yang penjahit di wilayah kecamatan lain.Hasil garapannya memang bagus, tapi karena kurang transparan dan kesulitan dalam pengawasan, kerjasama itu diakhiri.Putus.

“Sekarang fokus saya hanya mendesain, membuat pola dan memotong kain. Sementara, yang menjahit, sudah saya percayakan kepada tetangga – tetangga di sekitar sini. Ada sekitar 4 orang, kesemuanya ibu-ibu,” tutur Tarmidi.

Tarmidi, rupanya tak hanya piawai membuat tas. Semacam niatan mulia terpatri di dalam dirinya, menjaga tali silaturahmi. Meski diakui sendiri, tak semua orang bisa ‘menerima’ itikad baiknya merintis jalan menjadi produsen tas.
Ada cerita menarik, suatu saat tiba-tiba saja semua mesin dan piranti jahit lain milik Tarmidi, mati. Produksi tas pun mandek barang sejenak. Aliran listrik di rumahnya terputus mendadak. Usut punya usut, rupanya PLN yang mematikan, setelah beberapa hari sebelumnya mendapat mendapat semacam aduan. Isinya Tarmidi disinyalir melakukan aksi ‘pencurian’ listrik. Setelah dilakukan pengecekan, tuduhan yang dialamatkan kepadanya, nyata tidak terbukti. Pemilik brand ‘Dwi Collection’ ini cuma bisa mengelus dada, bersabar.

Kini, usaha tas milik Tarmidi terus melaju. Itu yang membuatnya tak henti bersyukur. Jika ada harapan, ia memiliki harapan kecil saja. Semoga usahanya langgeng, syukur-syukur ada sedikit perhatian dari pemerintah, bantuan mesin peralatan misalnya.
“Bagaimana prosedur mengajukan bantuan mas?” tanyanya.
“Begini Pak, syarat utama pengajuan adalah membentuk kelompok, terus buat proposal. Syukur kelompoknya dilegalkan dalam bentuk semacam badan hukum. Itupun tidak serta merta bisa langsung dapat. Ada proses panjang dan kami tidak bisa menjajikan apa-apa. Sedangkan kalau usaha perseorangan, ada alternatif pendampingan yang bisa kami lakukan. Seperti tahun ini ada fasilitasi merk, kemasan atau keikutsertaan dalam pameran misalnya,” ujar saya menjelaskan, dengan penuh kehati-hatian.
“Tapi mohon pengertiannya Pak. Daripada nanti dirudung kecewa mengharap sesuatu yang belum pasti, alangkah baiknya Bapak fokus membesarkan usaha secara mandiri,” saran saya.

Ya, kemandirian adalah kunci. Pelaku industri memang lebih terhormat apabila mandiri. Seperti kebanyakan kaum perempuan itu. Aura kecantikannya akan meruah tatkala menenteng tas sendiri. Bukan dibawakan suami, apalagi pengawal pribadi. (*)

Komentar
Spread the love

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *