PUKUL 12.00 WIB di komplek pertokoan Slawi. Cuaca panas menyengat. Motor, mobil, pejalan kaki berlalu lalang. Di sudut jalan, depan Toko Daging Sehat, persis deket Kantor Telkom Slawi, seorang wanita paruh baya berjualan makanan khas Tegal. Rujak teplak!

Ia duduk di atas kursi kecil. Peralatan dagang yang dulu digendongnya, ikut ‘mojok’ di situ. Dialah Kasanah, ibu rumah tangga asal Desa Trayeman.

Sudah pulahan tahun lebih ia menghabiskan waktu siang di sudut itu. Sebelumnya pernah keliling. Tapi tidak lama. “Saat liburan, apalagi pas lebaran, banyak yang cari rujak teplak ke sini,” ujarnya kepada panturabisnis.com.

Rujak teplak ini memadukan sayur-sayuran, di antaranya daun kangkung, tauge, pare, mentimun, bunga pisang/jatung pisang, kacang panjang, daun singkong, daun lengguk, daun lompong, daun pepaya, kecipir, kembang turi, timun, dan kol. Bisa ditambah dengan makanan lain seperti oseng-oseng gembus, tahu putih, lontong serta kerupuk mie.

Perpaduan itu disempurnakan dengan sambal teplak yang pedas dan parutan kelapa. Sambal teplak berbahan dasar singkong rebus yang dihancurkan dan gula merah. Rasa pedasnya tentu dari cabai. Selain itu ada juga kacang goreng dan sedikit kencur.

“Ibu saya jualan rujak teplak. Nenek dulu juga jualan rujak ini,” ungkap  Kasanah. Ia generasi ketiga dari usaha rujak teplak itu.

Dari depan toko Daging Sehat, Kasanah menyaksikan bagaimana Slawi berkembang semakin padat. Ia pun menyaksikan bagaimana pelanggannya tumbuh dewasa hingga berkeluarga.

Dengan kemasan pincukan khas Kasanah, pembeli rujak teplak pun berdatangan. Kasanah sering mendapat pesanan rujak teplak dari wong Tegal dan luar Tegal yang hendak merantau.  Sering juga Kasanah  diundang suatu kegiatan  untuk menghidangkan rujak teplak.

Namun dengan segala kesederhanaan, Kasanah tetap menempati sudut kecil di Depan Toko Daging Sehat Slawi. (bentar)

Komentar
Tags:
About Author: panturabisnis