fbpx

The Joko Way (9) – Teladan Revolusi Mental

Oleh Ahmad Thoha Faz

Owner panturabisnis.com

Sudah tiga hari aku tiduran terus. Istirahat total. Demam tinggi. Mandi pun tidak.

Namun ada kejadian penting, di KOMPAS TV, yang melecut aku untuk meneruskan ‪#‎thejokoway‬. Supaya masyarakat bertambah bingung karena pemimpin bangsa ini juga sedang bingung.

Itu kata pengamat yang belum meresapi revolusi mental. Sebagai contoh ketika Jokowi memulai kasus BG itu pun penuh dengan pertimbangan matang. Dampaknya mulai terasa satu dua bulan kemudian yang tidak terpikirkan pengamat mana pun. Sangat khas revolusi mental!

Setiap perubahan kecuali perubahan menuju kekacauan menuntut adanya pemimpin dan panutan. Apalagi perubahan mahabesar yang disebut “revolusi”. Revolusi industri punya James Watt dan Adam Smith. India punya Nehru dan Gandhi. Pakistan punya Iqbal dan Ali Jinnah. Iran punya Khomeini dan Ali Syariati. Cina punya Mao Tse Tung dan Deng Xiaoping. Indonesia?

Bung Karno adalah pemimpin besar revolusi Indonesia. Pak Harto adalah panutan utama P4 (eka prasetya pancakarsa). Pemimpin dan panutan revolusi mental? Siapa lagi kalau bukan dwitunggal Jokowi-Ahok? Jika daftar diperpanjang, maka ada Megawati, Puan Maharani, …

Jokowi adalah figur utama revolusi mental, seperti Pak Harto pada P4. Sejak awal Presiden Jokowi terbukti revolusioner. Bagi yang belum meresapi revolusi mental, tindakan dan ucapan Jokowi berisi kebohongan dan kebodohan. Tampaknya Jokowi memang seolah-olah pembohong dan bodoh, karena perlu sudut pandang revolusioner untuk melihat sang Satria Piningit. Tidak mudah menangkap kejeniusan seorang Jokowi. Berjibun gelar profesor pun tidak cukup.

Ahok? Tidak banyak pejabat yang mendapat pembelaan begitu luas seperti ‪#‎saveahok‬. Melalui ekspresi nya yang tidak mengenal takut, Ahok menunjukkan dirinya sebagai anutan revolusi mental sejati. Bahkan di dalam siaran live televisi, tanpa takut atau ragu, Ahok menyebut -maaf- “taik” (kotoran manusia).

Tentu Ahok bukan orang suci. Sebagai pejabat kaya, seperti pejabat lainnya, boleh jadi Ahok juga terlibat korupsi. Namun, Ahok tidak tedheng aling-aling untuk mengungkap apa yang beliau yakini benar. Mana ada pejabat negara berani menyebut “taik” di siaran langsung televisi? SBY, Gus Dur, Habibie, Megawati, Soeharto … tidak ada satu pun yang berani. Mungkinkah Ali Sadikin?

Banyak orang protes. Otak jadul tidak bisa menerima sikap Ahok yang melampaui zamannya. Perlu pola pikir revolusioner untuk memahami taik Ahok. Itu pertanda bahwa revolusi mental adalah tuntutan mendesak.

Jika revolusi mental mulai meresap, kita akan melihat semakin banyak pejabat dan PNS meniru Ahok, apalagi meniru tindakan yang mudah. Walikota / bupati, camat, lurah, ketua RW, ketua RT terbiasa memaki-maki dan menyebut taik. Guru, siswa, tidak mau ketinggalan mengikuti anutan mereka.

Taik adalah kata yang naik daun berkat revolusi mental. Ada juga kata yang mendapat kecurigaan terstruktur, masif dan sistematis: Muhammad. Jika anda memiliki nama Muhammad dipastikan anda akan diperlakukan diskriminatif di Bandara Soekarno-Hatta. Nama yang begitu mulia dipersepsikan nista, justru di negara yang berketuhanan yang maha esa. Revolusi mental sungguh efektif.

Logika revolusi mental sungguh revolusioner. Diperlukan pemikiran out of the box dan jungkir-balik untuk memahaminya. Jelas Jokowi tidak omong doang ketika menggulirkan revolusi mental.

 

Komentar
Spread the love

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *