fbpx

The Joko Way (8) – Revolusi Mental Edisi Ekonomi

Oleh Ahmad Thoha Faz

Owner panturabisnis.com

 

Setiap pelemahan Rp 100 per US dollar, “kita” diuntungkan Rp 2,7 triliun.

Itu pendapat luar-biasa seorang menteri keuangan. Dengan begitu untung semakin besar jika rupiah terus melemah ke Rp 15.000 dan seterusnya. Pandangan revolusioner sehingga begitu banyak pakar ekonomi tidak mengerti.

Ketika tim Jokowi bangga dengan kerja mereka sehingga berhasil membuat rupiah terus melemah, ekonom kontra-revolusioner justru panik. Mereka bermental pesimis dan menyebarkan pesimisme di tengah harga beras dan elpiji yang membumbung tinggi. Parah! Payah! Jelas ini perlu revolusi mental!

Revolusi berarti penghancuran tatanan lama dan pembentukan tatanan baru. Revolusi lebih dari sekadar reformasi atau restorasi atau renovasi.

Tidak mungkin revolusi itu adem-ayem.Hanya orang dungu yang memandang revolusi sekadar perubahan besar tanpa gempa peradaban. Revolusi adalah guncangan dahsyat. Begitu juga kerja Jokowi dan tim kabinet kerja sangat mengguncang, dari kalangan akademis sampai pengemis. Jokowi tidak omong doang ketika menyebut “revolusi mental”.

Hebatnya Jokowi, revolusi mental tidak perlu pemikiran yang dalam. Jokowi adalah pekerja tulen, yang terbukti mampu mengorbitkan mobil esemka tanpa perlu litbang bertahun-tahun. BJ Habibie mungkin sedang bercanda ketika mengatakan bahwa mobil esemka cuma dolanan.

Terbukti begitu dahsyat mantra Jokowi: kerja, kerja dan kerja! Revolusi mental adalah revolusi kerja. Mental untuk melayani kerja, bukan sebaliknya. Aksi lebih penting daripada visi. Apakah anda melihat dokumen utuh yang akan memandu arah revolusi mental?

Jokowi benar-benar pemimpin revolusi tiada dua. Ini jauh lebih hebat dari revolusi Amerika 1776 yang melibatkan pemikir besar sekelas Jefferson dan Franklin. Atau revolusi Indonesia 1945 yang menyatukan sejumlah pemikir besar dalam tim 9 BPUPKI.

Tim Jokowi lebih berorientasi kerja nyata. Ada Hendropriyono yang siap menjadikan Proton buatan Malaysia sebagai mobil nasional. Ada Surya Paloh yang siap mengimpor minyak dari Sonangol, Angola. Sebanyak 950.000 barel diimpor tanpa seizin kementerian ESDM. Revolusioner! Banyak pengamat yang bingung dengan kebijakan Jokowi, pertanda mental mereka perlu direvolusi.

Meski revolusi “mental”, kegiatan mental bukan hal utama. Bagi Jokowi yang penting adalah kerja dan kerja! Harga beras naik? Jokowi nyemplung ke sawah. Rakyat bertambah miskin? Jokowi blusukan dan bagi-bagi duit. Itu lebih konkret daripada membaca analisis tim ekonomi atau menandatangani tumpukan dokumen penting di istana.

Mencuri ikan? Tenggelamkan, tentu dengan perkecualian. Ribuan nelayan yang demonstrasi justru menunjukkan bahwa mental mereka perlu direvolusi. Bukankah mereka rata-rata nelayan miskin dan berpendidikan rendah?

Dompet negara menipis? Utang! Jokowi begitu agresif menambah utang luar negeri, apalagi rupiah melemah. Logika revolusioner. Belum cukup! Bukankah rakyat adalah sumber pendapatan? Rakyat harus lebih aktif membiayai pembangunan. Kesulitan mereka sekarang adalah investasi kejayaan di masa depan. Semoga.

‪

Komentar
Spread the love

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *