fbpx

The Joko way (19) – Striker’s Nutmeg

Oleh Ahmad Thoha Faz

Owner panturabisnis.com

Suarez striker jempolan. Lebih dari sumbangan dua gol untuk kemenangan Barcelona atas PSG, si penggigit asal Uruguay ini sukses mempermalukan salah satu bek terbaik dunia, David Luiz. Dengan cerdik, Suarez melakukan “nutmeg”. Bola melewati kolong kedua kaki bek PSG asal Brazil.

Tidak banyak striker sehebat Suarez, apalagi di bidang politik. Kita bangga memiliki presiden Jokowi, yang begitu cerdik menggolkan Komjen BG. Begitu banyak hadangan, tetapi Jokowi sukses melewatinya.

Sejak bola BG dimulai oleh Jokowi, mereka yang menghadang tertendang. KPK terguncang. Abraham Samad, Bambang Widjojanto, dkk siap-siap masuk bui. KPK segera diselamatkan oleh petugas partai PDIP.

Belum cukup. Bahkan banyak tokoh hebat sekelas Syafii Maarif, Jimly Asshiddiqie, dkk (dalam tim 9) pun terkecoh. Kerja keras, analisis dan rekomendasi mereka tidak berguna. Prabowo dan KMP apalagi. Awalnya saran tim 9 dituruti, tetapi ketika situasi adem putusan disesuaikan. Ini menunjukkan kelas Jokowi di atas semua jenderal dan professor di Republik Indonesia.

Lihatlah, BG telah menjadi wakapolri.Akankah sebentar lagi BG akan menjadi plt. kapolri, karena tidak lama lagi (Juli 2016) Jenderal Badrodin Haiti akan memasuki masa pensiun?

Seperti biasa Jokowi menunjukkan sikap rendah hati. Menurut mensesneg yang juga mantan rektor UGM, Jokowi sibuk dengan KAA sehingga tidak tahu urusan pelantikan BG. Ini mengingatkan aku pada sosok imam mujtahid yang tidak malu untuk mengatakan “saya tidak tahu”. Lagi pula, bukankah Asia-Afrika lebih luas, sehingga lebih penting, daripada Indonesia?

Kasus BG memang menyedot perhatian selama berbulan-bulan tetapi publik sekarang sudah lupa akibat tertimbun berita yang lebih baru. Jadi pelatihan wakapolri adalah the right man on the place and on the right time.

Apakah Badrodin Haiti berani berbeda dengan jenderal pilihan utama Jokowi dan Megawati? Siapa lebih tinggi kapolri atau wakapolri? Pertanyaan yang tampak konyol, padahal itu hanya kalah sedikit dibanding pertanyaan revolusioner berikut: siapa lebih tinggi petugas partai dengan ketua umum partai?

TEMUAN REVOLUSIONER

Zaman berubah, aturan berubah. Pada orde baru, Golkar adalah peserta pemilu tetapi bukan partai. ABRI (TNI dan POLRI) adalah kekuatan sosial-politik, bukan pertahanan-keamanan saja. Itu temuan politik dan tata negara yang cemerlang, khas demokrasi Pancasila, sehingga disepakati ratusan atau ribuan professor selama tiga dekade.

Nah, temuan terpenting pada era Jokowi adalah bahwa presiden adalah petugas partai. Ini temuan revolusioner! Memang ia tidak ada dalam konstitusi sehingga konstitusi perlu amandemen. It is ‪#‎thejokoway‬

Temuan lain barangkali tentang kapolri de jure (formal kapolri) dan kapolri de facto (real kapolri). De jure adalah yang memegang pulpen dan tampil di depan awak media, sedangkan de facto adalah yang memegang pistol dan tongkat komando.

Ah, ini hanya usul ngawur.

Komentar
Spread the love

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *