fbpx

The Joko Way (17) – Abu Nawas – Like Way

Oleh Ahmad Thoha Faz

Owner panturabisnis.com

Sekali lagi, Jokowi adalah aset dunia. Jokowi mampu membuat warga dunia tercerahkan dan bahagia. Seperti sufi besar Abu Nawas, Jokowi bisa melucu bukan hanya melalui standing up comedy melainkan juga tindakan nyata. Kita dibuat ngeri, seolah negara dalam bahaya, tetapi sebenarnya semua baik-baik saja. Negara serupa roller coaster.

Di balik humor a la Jokowi, secara halus, ada pesan kearifan yang hendak disampaikan kepada dunia. Serupa dengan Abu Nawas, Jokowi melucu dengan berlagak bodoh.

Sebenarnya seperti Abu Nawas, itu karena tingkat kearifan Jokowi sudah level khos (sangat istimewa). The uncommon wisdom, istilah dari nobelis fisika Werner Heisenberg. It is ‪#‎thejokoway‬.

Pertama, masih ingat rencana pengumuman pembentukan kabinet kerja di Tanjung Priuk? Ternyata tidak jadi. Padahal wartawan sudah menunggu lama. Paspampres sudah berjaga. Jutaan manusia setia di depan layar kaca.

Bagi orang yang berotak dangkal itu guyonan yang keterlaluan. Ya, perlu kecerdasan dan ketajaman mata hati untuk mengambil mutiara hikmah. Jadi, yang lebih tepat itu adalah guyonan kelas dunia.

Kekeliruan tentu bukan Jokowi, melainkan pada Paspampres, pasukan paling elite milik NKRI. Dengan cara yang unik, Jokowi mengingatkan TNI, wartawan dan bangsa ini untuk meningkatkan kecerdasan dan kesiagaan.

Kita pun menjadi tersentak untuk belajar lebih keras lagi. Supaya terbiasa berpikir minimum dua langkah. Juga terbiasa melihat isyarat dan mendengar yang tersirat. Sebagai bangsa, kita tidak boleh naif.

Kedua, terkait dengan perpres nomor 35 tahun 2015 terkait kenaikan DP mobil pejabat. Jawaban spontan Jokowi sungguh sekelas lelucon Abu Nawas, lucu kelas dunia. Sampai-sampai Wall Street Journal pun memuatnya. “I don’t read what I sign” pun menjadi buah bibir dunia.

Bayangkan, undangan dari ketua RT, yang tidak berdampak apa-apa, saya baca. Jokowi, sebegitu sibuknya, draft perpres langsung disetujui tanpa pembacaan yang cermat. Presiden sebelumnya mungkin juga begitu. Bedanya Jokowi lugu, jujur dan berani membuka borok birokrasi.

Konon, Gus Dur adalah satu-satunya pemimpin negara yang bisa menceriakan aura angker Raja Fahd dari Saudi Arabia. Dan bagi pengamat yang cermat tidaklah sulit untuk menyimpulkan bahwa Jokowi mewarisi bakat Gus Dur.

Pada kasus perpres, sekali lagi, Jokowi tidak salah. Seperti dikatakan presiden Jokowi, menteri keuangan yang salah. Justru Jokowi adalah pahlawan karena kemudian membatalkan perpres kontroversial. Gitu aja kok repot!

Di sisi lain, boleh jadi wartawan tidak menulis cermat. Atau wartawan tidak cukup cerdas memahami Jokowi. Atau wartawan sengaja memfitnah Jokowi.

Ketiga, Jokowi adalah petugas partai. Dalam hal ini Jokowi lovers dan Jokowi haters banyak yang sama-sama “gemblung” (Tegal: irasional).

Sebelumnya Jokowi lovers membantah bahwa Jokowi itu petugas partai. Padahal ini sangat jelas, sebelum dan sesudah Jokowi terpilih. Lihatlah tivi.”Yang tidak mau disebut petugas partai, keluar!” kata si pemilik partai moncong putih. Jadi, Jokowi lovers tidak menonton tivi? Atau membohongi diri sendiri dan lalu membohongi orang lain?

Jokowi haters juga gemblung. Termasuk pengamat netral. Pengamat bergelar professor doktor sekalipun seharusnya belajar kepada Jokowi. Mereka keliru tatkala menganggap bahwa menyebut presiden Jokowi petugas partai itu menghina simbol negara.

Jokowi itu kader PDIP. Itu tidak ada bantahan dari siapa pun, termasuk dari Professor Ikrar Nusa Bhakti atau Burhanuddin Muhtadi Dua. Nah, petugas partai adalah kader partai par excellence. Hanya kader partai dengan kualifikasi istimewa bisa menjadi petugas partai di DPR, gubernur, dsb.

Mana yang lebih tinggi: petugas partai (penerima tugas) atau ketua umum partai (pemberi tugas)? Anak SD juga tahu, apalagi Jokowi. Makanya Jokowi manggut-manggut.

Banyak pengamat menganggap itu aneh. Bukankah tampir semua temuan besar dimulai dengan tanggapan “it is funny, it is crazy”? Jokowi adalah penemu besar di bidang politik dan tata negara.

Jadi, Jokowi haters sebenarnya adalah Jokowi lovers yang cinta mereka tidak kesampaian.

Komentar
Spread the love

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *