fbpx

The Joko Way (16) – Setia dan Rendah Hati

Oleh Ahmad Thoha Faz

Owner panturabisnis.com

 

Jokowi adalah pilihan tepat untuk Indonesia hebat. Kongres PDIP semakin menunjukkan kualitas dan jatidiri Jokowi sebagai presiden belasan ribu pulau dan ratusan juta jiwa. Rendah hati. Low profile. Humble.

Presiden Indonesia adalah orang “nomor satu”, dihormati dan diperlakukan layaknya kepala negara dan pemerintahan, dari Sabang sampai Merauke. Namun di kongres PDIP Jokowi tampil beda. Tidak ada gambar presiden. Tidak ada acara pembukaan oleh presiden. Tidak ada sepatah kata pun sambutan dari presiden. Tidak ada salam dua jari. Tidak ada teriakan, “Hidup Jokowi!”

Tampaknya mereka tidak mau berlarut-larut dengan kebanggaan meski kader terbaiknya baru saja menjadi presiden. Mereka mungkin tidak mau melukai hati pendukung Prabowo yang belum move on. Apalagi rakyat kecil yang terus menjerit karena biaya hidup semakin melangit.

Siapa peduli? Jokowi peduli dengan menasihati rakyat, “Jangan manja!”. Peserta kongres peduli. Maka, yang ada di mana-mana adalah gambar Soekarno dan Soekarnoputri. Presiden Jokowi rela dirinya tidak diperhatikan. Luar-biasa!

Semakin bangga lagi, pada sambutan di atas podium, bagaimana ketua umum PDIP bahkan menyebut nama dan memberi salam kepada sang presiden pun tidak. Lalu bagaimana secara terus-terang dan berulang sang ketua umum partai memperingatkan sang kepala negara. Wow, tidak pernah sebelumnya kita melihat kejadian yang penuh pesona.

Tidak ada orang yang berani menasihati presiden begitu keras, langsung di mukanya dan disaksikan jutaan manusia lain. Peristiwa menakjubkan ini mustahil terjadi seandainya sang presiden bukan Jokowi.

Tidak ada presiden yang begitu rendah hati seperti Jokowi. Bagi kacung sekalipun itu menyakitkan hati, dipermalukan di depan umum, tetapi tidak bagi kepala negara bernama Jokowi. Jokowi tetap manggut-manggut. Sungguh mencerminkan contoh nyata revolusi mental.

Tidak sia-sia Jokowi terbang dengan pesawat kepresidenan ke kongres PDIP di Bali. Jokowi (panglima tertinggi TNI) tidak hadir pada acara HUT TNI-AU, seperti juga panglima TNI Jenderal Moeldoko yang sedang berada di Libanon.Tindakan yang sungguh tepat, karena penanggung jawab tertinggi penyelenggaraan negara ini mendapat arahan langsung dari bukan atasannya.

Teringat pada sosok khalifah ‘Umar bin al-Khoththob. Beliau diperingatkan oleh rakyatnya dan beliau berterima kasih. Bedanya sang presiden hanya diam seribu kata, sedangkan sang khalifah tetap mengendalikan situasi dan bicara.

Teringat Nabi Muhammad yang tetap sabar tatkali dicaci-maki, bahkan dilempari batu. Doa beliau, “Ya Allah ampunilah mereka karena mereka tidak tahu.” Bedanya Megawati tidak mencaci-maki Jokowi, apalagi melempari batu. Juga Megawati bukan orang bodoh. Jadi perbandingan ini tidak relevan, maka salah anda sendiri mau baca.

Jadi, semakin terang pesona dan wibawa khas Jokowi, tentu saja khusus bagi Jokowi lovers. Bagi mereka yang mentalnya tidak revolusioner tentu lain lagi. It’s ‪#‎TheJokoWay‬.

Banyak orang tidak cukup cerdas memahami cara kerja Jokowi dan platform partai yang melahirkan satria piningit. Karena itu anggaran revolusi mental yang nilainya triliunan rupiah, melalui berbagai jalur, merupakan tuntutan mendesak. Sebagai partai yang kadernya paling banyak korupsi, PDIP memang sangat tepat memimpin revolusi mental, karena lebih tahu siapa pun untuk melawan korupsi.

Di acara kongres itu warga moncong putih wa bil khusus presiden ke-7 diingatkan cara mengelola negara yang benar. Apa itu? Kader partai adalah petugas partai. Siap dengan tugas dan penempatan di mana pun, termasuk presiden. “Yang tidak mau disebut petugas partai, keluar!” kata presiden ke-5.

Professor Miriam Budiardjo, dalam DASAR-DASAR ILMU POLITIK (cetakan 2010) hal 408, menulis buruknya loyalitas kepada partai yang berlebihan. Bukan hanya alumni Harvard. Banyak pengamat dan pakar mengutip, “My loyalty to my party ends whe my loyalty to my counter begins,” padahal itu budaya Barat. Bahasanya saja Inggris, beda dengan Pancasila. Jadi jelas tidak sesuai dengan revolusi mental.

Presiden harus menjalankan konstitusi, harus menjalankan garis kebijakan partai. Megawati mengingatkan itu, bukan karena belum move on, melainkan karena pengalaman pahit ditusuk dari belakang dua kali.

Maka muncullah “teror” Megawati bagi pengkhianat. Silakan cari sendiri detailnya di media online. Tentu saja itu untuk kader PDIP lain, bukan untuk panglima tertinggi TNI bernama Jokowi. I don’t listen to what you say, Mom? Tidaklah.

Budiarto Shambazy, dalam KOMPAS hari ini menulis, “Pidato Megawati tidaklah keliru, malah yang terbaik sejauh ini.” Ingat, yang terbaik. Megawati sendiri mengakui tidak ada pemimpin sebaik dirinya ketika berorasi. Jadi, orasi politik pada kongres 2015 adalah best of the best.

Jokowi? Jokowi tidak mungkin keliru. Seperti ditegaskan sejumlah pakar dan politikus, yang keliru adalah penumpang gelap di sekeliling banteng kerempeng. Mereka itulah yang membisiki Jokowi. Mereka itulah yang menghambat komunikasi partai pendukung dengan Jokowi.

Apapun, lebih keliru adalah yang membaca tulisan ini, apalagi yang menulis. Lah, tidak dibayar seperti presiden dan anggota DPR kok sempat-sempatnya sok memikirkan negara.Jadi, seperti Jokowi, tetaplah rendah hati.

Komentar
Spread the love

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *