fbpx

The Hidden Love – Dilahirkan Novelis Perempuan Pertama Brebes

DUNIA seni di Kabupaten Brebes menoreh sejarah baru. Seorang ibu rumah tangga, Fatmah Sukmawati, warga Slatri, Larangan Brebes melahirkan novel dengan judul The Hidden Love.

Rabu kemarin, di pendopo Pemkab Brebes, karya novelis perempuan pertama di kota bawang itu dilaunching. Acara tersebut dihadiri Bupati Brebes Hj. Idza Priyanti, S.E, sejumlah pejabat dan pelajar di Kabupaten Brebes.

Saat memberi sambutan, Ketua Dewan Kesenian Kab. Brebes Wijanarto Wijan mengapresiasi karya Letha Amatry (nama pena Fatmah).

“Dengan kesibukannya sebagai ibu rumah tangga, Ibu Fatmah mampu melahirkan karya sastra. Ini bisa menjadi contoh bagi pelajar dan generasi muda,” ujarnya.

Wijanarto berharap panggung berkesenian di Brebes tidak pernah sepi, sepi pendukung, sepi pengagum dan sepi pengunjung. Karena itu, ia berterima kasih kepada semua pihak yang mendukung dan hadir dalam acara launching buku The Hidden Love.

“Gemladag, mulad-mulad kesenian Brebes!”

Dalam catatan di belakang novel tersebut, Wijanarto menulis, Dunia rumah tangga tak pernah kehabisan untuk sebuah ide bagi suatu penulisan. Termasuk Novel ini. Latar belakang sang penulis sebagai ibu rumah tangga serta dunia yang tak asing membuat tulisan ini adalah dunia keseharian dengan pernik-perniknya yang renyah untuk dibaca. Bahasa yang bersahaja membuat pembaca tak kesulitan mengikuti alur cerita. Selamat, telah lahir novelis perempuan di Brebes.

Sebelum acara launching dimulai, Fatmah mengungkapkan kepada panturabisnis.com, novel tersebut ditulis selama satu tahun.

 

PERTARUHANNYA KARYA

Hadir dalam acara launching, seorang sastrawan senior yang puisi-puisinya termuat dalam antologi puisi Dari Negeri Poci. Dia adalah Dharmadi DH.

Dharmadi DH

“Pertaruhan seniman itu karya. Bukan tampilan, model rambut dan sebagainya, tetapi apakah ia sudah menghasilkan karya atau belum. Dan, peran Dewan Kesenian itu penting,” ujarnya mengomentari kelahiran novel The Hidden Love.

Karena itu, salah satu penyair pendiri kajian seni Kancah Budaya Merdeka di Purwokerto, Banyumas, tahun 1993 tersebut, merasa bangga dengan kegiatan Dewan Kesenian Brebes. “Ini menunjukkan manajerial Dewan Kesenian Brebes sangat baik.” (pb)

Komentar
Spread the love

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *