Oleh Reza Dwi Anggono, ST
Penyuluh Perindustrian Disperindag Kab. Tegal

“Bapak, Ibu silahkan masuk,nanti ditemani Mas Wim. Saya tunggu di luar saja. Tidak enak kalau melanggar peraturan yang saya buat sendiri,” terang lelaki bersarung dan berbaju koko. Ia¬†mempersilahkan kami untuk melihat tempat produksi perusahaannya, PT.Halt Manufaktur Sentosa (HMS), di Desa Kedungbungkus, Tegal.

IKM produsen Susu Bubuk Kambing Etawa bermerk RBM. Sembari mengomando kami berlima untuk memakai semacam sarung kaki sebelum masuk.
Sepertinya lelaki petinggi perusahaan itu, Mas Rohman (dan Mas Wim), tak main-main dan sangat serius menata perusahaannya. Tak sembarang orang bisa masuk ke tempat produksi, sanitasi dan higienitas menjadi prioritas. Sampai beliau sendiri, menahan diri untuk tidak turut masuk hanya karena ‘kebetulan’ memakai sarung dan baju koko. Mungkin karena hari itu Hari Jumat, beliau telah bersiap sedari awal untuk Jumatan.

Bersih, Rapi dan Tertata

Bersih, rapi dan tertata. Itu kesan pertama yang saya tangkap, saat mengintip ‘dapur’ PT. HMS. Masing-masing proses dilakukan terpisah namun berurutan. Mirip semacam deretan kamar kos-kosan. Dengan jendela kaca yang besar, yang memungkinkan ‘tamu’ bisa melihat proses produksi dari luar tanpa harus masuk ruangan.
Tak lupa papan petunjuk informasi kerja sampai perangkap serangga pun ada. Melihat kenyataan di tempat produksinya, tak mengherankan apabila susu bubuk kambing etawa RBM ini telah mengantongi sertifikasi mutu produk pangan. Seperti : Registrasi MD BPOM RI, Standar Halal MUI, NKV (Nomor Kontrol Veteriner). Beberapa karyawannya pun telah ‘lulus’ pelatihan HACCP (Hazard Analysis & Critical Control Point), semacam manajemen pengendalian keamanan dan mutu pangan.

Susu, cairan bergizi berwarna putih yang dihasilkan kelenjar susu mamalia betina (termasuk manusia) ditasbihkan sumber gizi utama dan nutrisi yang penting bagi tubuh seperti vitamin, protein, kalsium, magnesium, fosfor dan zinc. Itulah sebab mengapa kebudayaan manusia (bahkan binatang) mengenal susu sebagai asupan pertama bagi makhluk yang baru lahir. Bukan teh, kopi atau ‘susu’ kedelai. Saya tidak paham, apa yang terakhir ini layak disebut susu, kedelai kan bukan mamalia. Atau mungkin definisi susu nya yang salah.

Mendekati Air Susu Ibu

Dibandingkan dengan susu sapi, susu kambing dipercaya memiliki karakteristik nutrisi yang lebih mendekati Air Susu Ibu (ASI). Riset dari University of Granada (Spanyol) setidaknya telah membuktikan beberapa temuan tentang susu kambing. Kandungan oligosakarida susu kambing yang besar memungkinkan tumbuh kembang bakteri menguntungkan (probiotik) di dalam tubuh. Juga proposi laktosa susu kambing yang lebih sedikit, membuatnya lebih mudah dicerna oleh tubuh. Serta kandungan asam lemak esensial yang banyak. Asam lemak esensial ini merupakan sumber energi yang cepat dan tidak disimpan sebagai lemak tubuh.
Makannya kalau situ kepengin sehat, minumlah susu. Syukur susu yang masih segar. Lebih syukur lagi, dari kambing atau sapi milik sendiri, perasnya juga sendiri. Tapi kalau ingin yang praktis sekali, bolehlah mencoba susu kambing etawa RBM ini, produk aseli dalam negeri.

Tiga Khasiat

Ditemani sajian lima cangkir susu, obrolan hangat mengalir diantara kami para tamu dan beberapa pengelola susu kambing RBM. Susu memang menyehatkan dan punya banyak manfaat. Saya catat setidaknya ada tiga ‘khasiat’ penyembuhan dan jalan kesehatan melalui konsumsi susu kambing yang saya dengar langsung dari praktisinya.

Yang menjadi penyebab sehat, tentu saja Sang Maha Menyehatkan, bukan susu kambing. Susu kambing hanya sebatas sarana saja. Itu juga yang ditegaskan pengelola PT.HMS sebelum bercerita lebih lanjut.
Pertama, dikisahkan bahwa salah seorang istri pengelola susu RBM yang divonis bidan maupun dokter mengalami ‘hamil anggur’.

Alhamdulillah setelah rutin mengkosumsi susu kambing RBM ini, janin yang dikandungnya mengalami perkembangan yang diluar dugaan. Sehat dan normal sampai bisa melahirkan.Sampai dokter pun takjub dan heran.
Mendengar kisah ini, saya lirik kedua kawan saya yang ibu-ibu sudah mulai mengangkat cangkir susu menyorongkan mulutnya ke bibir cangkir.

 

Langsung Percaya

Sepertinya keduanya langsung percaya dengan khasiat yang pertama ini. Sementara saya dan kedua kawan lelaki masih belum bergeming, ketiga cangkir susu masih tergeletak anteng. Bukan apa-apa, saya percaya , tapi terus terang bagi saya pribadi, agak sulit membuktikan. Saya lelaki, secara kodrati, tidak mungkin hamil.
Kedua, mengkonsumsi susu kambing 2 (dua) kali sehari. Setelah bangun tidur di pagi hari dan sore hari, bisa menjadi semacam terapi bagi yang ingin menghentikan kebiasaan menghisap kretek. Konon, kretek akan jadi terasa tawar. Waduh, untuk khasiat yang satu ini, bisa jadi benar. Tapi sayangnya saya belum berniat menanggalkan status penghisap. Sekali lagi, cangkir susu saya, masih belum saya sentuh, meski seperti merengek-rengek minta dicecap.
Ketiga, sembari mengeluarkan semacam ramuan herbal racikannya sendiri, si empunya perusahaan menawarkan kami. Untuk mencoba me-mixing secangkir susu kambing buatannya dengan ramuan tersebut. Khasiat ini spesial buat para Bapak. Konon mengkonsumsi “susu kambing mixing” ini bisa meningkatkan stamina, vitalitas dan kejantanan.

Pengalaman Baru

Buat saya ini cukup menarik, pengalaman baru dan bikin pesam-pesem sendiri. Alhasil sejurus kemudian, tiga cangkir susu milik bapak-bapak,dengan ikhlas disenyawakan dengan ramuan tadi.
Sruput-sruput, begitu ketiga cangkir tandas habis dicecap saya dan kedua kawan yang bapak-bapak. Tanpa menunggu waktu lama, kami bertiga seolah kompak minta segera undur diri. Sepertinya sudah tidak sabar lagi, kebelet ingin pulang. Apakah ingin membuktikan khasiat yang ketiga?
Ternyata tidak juga.
Asal tahu saja,waktu sudah hampir mendekati jam 12 Siang, mendekati Jum’at’an. Kalau terlambat, bisa-bisa yang didapat cuma sekedar ‘susu kambing’, bukan kambing apalagi onta. Untuk bukti khasiat terakhir tadi,tak perlulah saya ceritakan disini. Cukup menjadi rahasia kami bertiga saja. Kalau mau, silahkan coba sendiri. (pb)

Komentar
Spread the love
Tags:
About Author: panturabisnis