fbpx

Shuttlecock Bangkit Utama, Pasok Pabrik Cock di Bandung

TIGA ibu terlihat bekerja di teras rumah Sumarno, warga Debong Lor RT 05 RW 02 Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal. Ada yang tengah memotong dan mengepon bulu. Bulu angsa warna putih. Suara plok plok plok terdengar saat mesin pon bekerja. Beberapa dus berisi selongsong shuttlecock menumpuk di beberapa pojok rumah. Termasuk di ruang dalam.

“Kami mulai usaha membuat shuttlecock tahun 2001,” ujar Sumarno mengawali cerita tentang perjalanan usahanya.

Semula Karyawan Pabrik  Shuttlecock

Semula bukan ia yang punya ketrampilan membuat shuttlecock. tetapi istrinya. Wanita yang dinikahi Sumarno itu semula menjadi karyawan pabrik shuttlecock Garuda. Bapak mertua juga kerja di pabrik cock.

“Saya sopir,” kata Sumarno.

Saat memiliki anak pertama, Sumarno berpikir bahwa profesi sopir tidak memungkinkan untuk berkembang lebih maju lagi. Karena itu, terbetiklah usaha membuat cock. Dengan modal awal Rp 2 juta, ia bersama istri bertekad memproduksi cock. Dari modal tersebut, hnya bisa menghasilkan 10 slop cock atau 100 biji cock per hari.

“Saya pasarkan sendiri.”

 

Tidak Menyerah

Selama enam bulan, usaha tidak berjalan lancar. Hasil tidak menguntungkan. Namun ia tidak mau menyerah dan putus asa. Usaha terus ia jalankan. Hingga memasuki tahun pertama, produksi menjadi 20 slop per hari. Usaha yang diberi nama Bangkit Utama pun makin lancar setelah berhasil memasok ke pabrik cock di Bandung, sekitar tahun 2005. Tidak hanya satu pabrik. Tetapi dua pabrik. Yakni pabrik cock cap Murai dan Cendrawasih.

“Kita jual ke pabrik tanpa cap. Kirim sudah pake selongsong. Kadang juga pabrik mengirim stiker untuk dipasang di selongsong.”

Sampai saat ini, Sumarno masih memasok kedua pabrik tersebut. Masing masing pabrik dipasok sekitar 100 sampai 250 slop per minggu. Dia merasakan lebih enak memasok pabrik daripada menjual cock dengan brand tersendiri.

“Memang yang lebih banyak dapat untung itu pabrik cock. Bagi saya, meski untung tidak banyak, tetapi bisa rutin memasok,” ujar dia.

Di Debong Lor, tidak hanya Sumarno yang memproduksi cock. Mereka diwadahi dalam kelompok yang diketuai oleh Sumarno. Dengan adanya kelompok tersebut, anggotanya mendapat bantuan mesin pon dari pemerintah setempat.

“Tiap anggota dapat satu mesin pon.”

Sumarno bersyukur usaha kini sudah berjalan lancar. Namun bukan berarti tanpa kendala, seperti harga bulu yang selalu naik dan keterbatasan modal.

“Bulu kami beli dari Nganjuk. Kadang pabrik besar sudah membayari dulu bulu di sana. Hingga kami yang modal sedikit, kalah bersaing.”(*)

Data IKM

Nama : Sumarno
Tempat/Tgl Lahir : Tegal/11 April 1976
Alamat : Debong Lor RT 05 RW 02 Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal
No HP : 085226802531
Bidang Usaha : shuttlecock

Komentar
Spread the love

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *