Rumah semi-permanen. Dinding dari anyaman bambu. Lantai tanah. Di dalamnya tampak seorang bapak yang –maaf– tidak berkaki. Sukirso, namanya.

Beruntung Sukirso memiliki anak yang berbakti. Pada tahun 2014 lalu, Sutrisno (23 tahun) memilih bekerja di rumah, meninggalkan gemerlap Jakarta.

Serupa kerjaannya di Jakarta, Sutrisno dan temannya menggeluti dunia konfeksi. “Konfeksi”, bukan “konveksi”! Mesin jahit berikut bahan baku semua milik si bos dari Tembok Banjaran.

“Upahnya Rp 3000 per potong. Tetapi karena bukan mesin sendiri, kami menyewa dari si bos. Dipotong Rp 500 per potong,” kata Sutrisno kepada panturabisnis.com di kediamannya, Desa Karangmulya, Kecamatan Suradadi.

BERBISNIS ITU BERIBADAH

Masih di Karangmulya ada pengusaha konfeksi asli Karangmulya. Nurkholis (38 tahun) memulai bisnisnya sejak 2010. Berawal dengan membawa pekerjaan di Jakarta ke rumah. Mesin jahit dicicil dari si bos dan selama 6 bulan lunas.

Sekarang pria berputra satu ini telah memiliki 10 mesin, yakni 7 mesin jahit dan 3 mesin obras. Sebagian besar mesin itu tersebar di rumah karyawannya.

“Upah per potong Rp 3000. Tetapi kalau di rumah, Rp 3500 per potong. Kelebihan Rp 500 itu untuk bantuan listrik,” kata Nurkholis.

Uang sewa? “Tidak ada. Kalau mesin rusak juga biaya reparasi kami tanggung semua.”

Saryo (42 tahun), pengusaha konfeksi asal Desa Harjasari Kecamatan Suradadi, membenarkan. “Berbisnis sebenarnya membantu banyak orang. Memang tidak salah sih kalau si buruh membayar uang sewa. Tetapi kami tidak mengenakan biaya sewa,” kata teman dekat Nurkholis ini.

Komentar
Tags:
About Author: panturabisnis