DULU namanya “SGTT” (SINTESA Goes To Tegal)! Ketika diundang jadi pembicara pada acara SINTESA UI (Satu Ikatan Tegal Bersaudara Universitas Indonesia), pada tahun 2009, Ahmad Thoha Faz mengatakan seharusnya “Goes Home” (pulang) bukan “Goes” (pergi). Namun kritik Thoha tidak serta-merta mengubah istilah yang sudah digunakan lama. Perlu lama untuk menerima perubahan.

“Gagasan yang baik tidak pernah ditolak, hanya dibaca. Kadang pembacaan itu yang makan waktu lama,” kata penulis Titik Ba dan penemu Matematika Detik tersebut.

“Sekarang SGTT berganti nama SBT (SINTESA “Balik” Tegal) pada 2013,” kata Lubby Masfar Muzetha, wakil ketua SINTESA 2014-2015.

“Semoga ke depan, balik Tegal bermakna lebih dalam,” lanjut pemuda asli Sumurpanggang, Margadana, “Mereka mau ambil bagian pada kegiatan riset mengenai potensi dan masalah Tegal.” Lubby memulai gagasan itu dengan dirinya sendiri. Saat ini mahasiswa Ilmu Komputer UI sedang kerja praktek di Potji.com “Portal Tegal Jepangnya Indonesia” membangun web database SI POTJI (Sistem Informasi Poros Digital Tegal Jepangnya Indonesia).

“SI POTJI nantinya akan mendukung Potji.com, Kampung UKM Digital dan kegiatan lain yang diintegrasikan ke dalam Poros Digital, termasuk Poros Ristek,” kata Thoha, sang konseptor Poros Digital.

“Potensi dan masalah Tegal begitu besar dan tidak akan pernah selesai? Adakah yang lebih dekat dengan dunia riset ketimbang akademisi? Dengan adanya Poros Ristek, pembangunan Tegal akan didukung oleh riset yang terstruktur, sistematis,masif dan berkelanjutan,” lanjut lulusan Teknik Industri ITB tersebut.

Seperti sudah diketahui oleh masyarakat luas, antara lain dimuat oleh harian SUARA MERDEKA (16/7), saat ini KADIN Kabupaten Tegal bersama Potji.com sedang merintis Poros Riset dan Teknologi (Poros Ristek), yang direncanakan akan berlokasi di Terminal Adiwerna yang sejauh ini mangkrak. “Silakan Mas Profesor Thoha, KADIN siap mendukung,” kata H.Fatkhudin, ketua KADIN Kabupaten Tegal.

Menurut Thoha, seorang PNS fenomenal yang saat ini sedang memimpin pengembangan Potji.com, pada era digital ini jarak geografis bukan hambatan; “jarak psikologis” yang bertempat di hati itulah hambatan yang sesungguhnya. Maka ketika bicara tentang kalangan akademisi, Thoha berharap pembuat kebijakan tidak hanya tertuju pada kampus lokal seperti UPS, Politeknik Purbaya, Politeknik Harapan Bersama, dsb melainkan kampus di mana di dalamnya tinggal akademis berdarah dan berhati Tegal. Adapun di Potji.com, terkait dengan kerja praktek atau riset bertema internet marketing, saat ini terdapat 6 siswa/i SMK Negeri 1 Slawi, 7 mahasiswa/i Politeknik Harapan Bersama, 1 mahasiswa S1 Ilmu Komputer UI, 1 mahasiswi S1 Teknik Industri UNDIP Semarang dan 1 mahasiswa S2 Teknik Industri UII Yogyakarta. Sebelumnya, ada 5 siswa/i SMK Negeri 1 Adiwerna dan 4 mahasiswa STMIK YMI Kota Tegal.

DEWAN RISET DAERAH (DRD), DI MANAKAH GERANGAN?

Potensi dan masalah di Tegal tentu tidak hanya mengenai internet marketing. Artinya Tegal memerlukan SDM riset dan teknologi yang berlipat jumlanya dibanding yang saat ini dikelola Potji.com. Siapa yang menangani?

Di Kabupaten Tegal sebenarnya telah memiliki Dewan Riset Daerah (DRD), dengan alamat kantor BAPPEDA Kabupaten Tegal, Jalan Dr.Soetomo No.1, Slawi. Pemerintah Kabupaten Tegal kali pertama membentuk Dewan Riset Daerah (DRD) Kabupaten Tegal pada tahun 2005 dengan dasar SK Bupati Tegal Nomor. 050/1425.A/2005 tanggal 26 Oktober 2005 tentang Pembentukan Susunan Keanggotaan Organisasi Dewan Riset Daerah Kabupaten Tegal. Dewan Riset Daerah (DRD) Kabupaten Tegal kemudian mengalami vakum selama tahun 2011-2012, dan pada tahun 2013 kembali dibentuk dengan SK Bupati Tegal Nomor. 050/786/2013 tanggal 15 Agustus 2013 tentang Pembentukan Keanggotaan Organisasi Dewan Riset Daerah Kabupaten Tegal 2013-2018. Berdasarkan http://drd-tegalkab.blogspot.co.id, DRD periode 2013-2018 dipimpin oleh Prof. Dr. Indrati Rini, SH., M.S. sebagai ketua dan Muhammad Syaikhudin alias Jite Syaikhudin sebagai wakil ketua.

Masih dari sumber yang sama, visi DRD adalah terwujudnya Masyarakat Kabupaten Tegal yang Mandiri, Unggul, Berbudaya, Religius dan Sejahtera melalui Penelitian, Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (P3IPTEK). Bila demikian, menurut “Profesor” Thoha, seharusnya DRD itulah yang melahirkan atau paling tidak bekerja sama dengan Poros Ristek. Namun, samaseperti beberapa lembaga non-struktural yang dibentuk secara top-down seperti Inkubator Bisnis Pertiwi Techno Center (PTC), DRD saat ini tidak jelas juntrungnya.

“DRD sudah dibekukan,” kata Darmanto, kepala bidang Litbang dan Statistik BAPPEDA kepada panturabisnis.com. (pb)

Komentar
Tags:
About Author: panturabisnis