UNTUK mengembangkan pasar pariwasata, salah satunya perlu dilakukan rebranding produk atau komoditi
yang berasal dari Kabupaten Tegal. Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan bimbingan teknis sinkronisasi
promosi Pariwisata Pasar Asia Tenggara, Jumat – Sabtu (3 – 4 November 2017) di Grand Dian Slawi.
Pasalnya, tidak sedikit produk atau komiditi yang tidak membawa nama daerah Kabupaten Tegal.

“Seperti produk teh, siapa sangka teh yang sudah dikenal secara nasional itu diproduksi di Kabupaten
Tegal? Dan, cukup banyak produk teh di sini. Jadi perlu dilakukan rebranding untuk mengembangkan pasar
pariwisata daerah ini,” ujar Asdep Pengembangan Pasar Asia Tenggara Rizki Handayani saat menyampaikan
materi pada kegiatan yang digelar kementerian pariwisata tersebut.

Beberapa produk kuliner, seperti Martabak, siapa yang tahu itu berasal dari Lebaksiu Kabupaten Tegal?
Karena, mereka yang menjual martabak tidak membawa brand nama daerahnya sendiri. Begitu pula kuliner
khas Tegal lainnya, seperti sauto dan tahu aci. Teh menjadi perhatian tersendiri dalam acara tersebut.
Bahkan tercetus mengangkat Slawi sebagai Kota Teh terbesar di Indonesia.

“Kita bikin Slawi menjadi Kota Teh terbesar,” tegas Tendi Nuralam, seorang praktisi Tim Percepatan
Pengembangan Wisata Kuliner dan Belanja dalam bintek yang diikuti oleh pelaku usaha yang terkait dengan
industri pariwisata.

KESEMSEM LASEM

Dalam bintek tersebut juga dipaparkan bagaimana Lasem, sebuah kota kecamatan di Kabupaten Rembang, bisa
menjadi tempat wisata yang menarik dengan brand Kesemsem Lasem. Agni Malagina, penulis majalah National
Geographic Indonesia yang pernah mengangkat Lasem, pada kesempatan Bintek tersebut membuka kiat
mengangkat wisata daerah. Yakni:
1. Ketahui tentang diri sendiri, sadar wisata dan perlu katalis.
2. SWOT (kekuatan, kelemahan, kesempatan, ancaman)
3. Pemetaan warisan budaya benda dan non benda
4. Kalender kegiatan
5. city branding
6. Kerja bersama komunitas/masyarakat (warga, tokoh masyarakat, generasi milineal), pemerintah,
akademisi, sektor swasta, media
7. Kenali pasar
8. Pariwisata berkelanjutan: komunitas dan pariwisata, interpretasi, story telling, paket promosi dan
pemasaran, bisnis sosial
9. Empat pilar pariwisata, pengembangan paket wisata terintegrasi, industri pariwisata, SDM dan
kelembagaan, pemasaran – sinkronisasi promosi.

Anggota Komisi X DPR RI Abd. Fikri Faqih yakin Tegal memiliki produk unggulan yang menarik. Dan, bisa
mengundang banyak wisatawan jika kita lebih kreatif. Bimbingan teknik tersebut sebagai upaya agar semua
bisa bekerjasama membangun sektor pariwisata.

 

KUNJUNGI CACABAN

Sabtu (4 November 2017), sebelum acara bintek berakhir, Kabid P3W Dinas Parpora Kab. Tegal Siti Fadilah
mengajak Tendi Nuralam bersama rombongan kementerian pariwisata berkunjung ke Obyek Wisata Cacaban. Ia
berharap dengan melihat langsung, Tendi bisa memberikan masukan kepada dinas dalam pengembangan
destinasi Cacaban. Rombongan berkesempatan naik perahu keliling Cacaban. (pb)

 

 

 

 

 

Komentar
Tags:
About Author: panturabisnis