mesin pengolah limbah plastik menjadi bahan bakar sejenis bensin / solar karya siswa SMK Negeri 1 Adiwerna.

Wow!

Arif Saadillah tidak menduga sebelumnya ada Laboratorium Proses Produksi dan Uji Material di kompleks Lingkungan Industri Kecil (LIK), Jalan Raya Dampyak Km.4, Kabupaten Tegal. Mahasiswa S2 Teknik Metalurgi UI semakin terkejut, mengetahui bahwa peralatan uji material yang ada tidak kalah canggih dengan yang ada di kampusnya.

Arif tidak seorang diri. Justru itulah potret umum mahasiswa asal Tegal. Di luar warga akademis Universitas Pancasakti, hanya segelintir mahasiswa yang mengenal LIK dan fasilitas yang ada di dalamnya. Arif beruntung karena –bersama dosennya yang kebetulan sedang mengadakan penelitian serupa –dapat mengerjakan skripsi/tesis di kampung halaman, tidak hanya bisa pamer jaket dan gadget. Kabupaten Tegal, tepatnya di Desa Kebasen dan sekitarnya, adalah sentra industri komponen kapal nasional sehingga kegiatan R & D (research and development) yang intensif dan berkelanjutan merupakan kebutuhan yang tidak terelakkan. Sebuah simbiosis mutualisme!

Simbiosis Perguruan Tinggi dan Perindustrian

Simbiosis mahasiswa asal Tegal dan pelaku industri di Tegal seharusnya merupakan “budaya” yang mudah dikembangkan. Mengapa? Karena keduanya saling membutuhkan. Ini adalah bentuk kerjasama saling menguntungkan (win-win solution).

Mari kita lihat lebih dekat. Pada tingkat akhir, pada umumnya mahasiswa dihadapkan pada masalah menentukan tema penelitian. Biasanya mereka berburu tema dengan membaca laporan skripsi / tesis di perpustakaan kampus, googling atau mengikuti kegiatan dosen. Mengapa mereka tidak berburu tema sambil jalan-jalan di kampung halaman?

Bagi perindustrian di Kabupaten Tegal, budaya penelitian merupakan kegiatan yang terkesan begitu mewah. Tidak aneh banyak produk “Jepangnya Indonesia” ini dipandang memiliki kualitas rendah, karena hanya mengandalkan keterampilan turun-temurun. Sampai-sampai ada pelaku industri knalpot di Slawi tidak mau mengaku berasal dari Tegal hanya untuk menghindari cap negatif dari prospek dan konsumen.

mesin pengolah limbah plastik menjadi bahan bakar sejenis bensin / solar karya siswa SMK Negeri 1 Adiwerna.

 

Sebenarnya, seperti Jepang pada awal kebangkitan industri mereka, Tegal adalah jago contek. Asalkan ada contoh, “Empu Gandring” bisa menirunya. Bahkan di perkuliahan di ITB, Jepang sering disandingkan dengan Tegal. Akan tetapi Jepang yang bangkit dari kehancuran pada 1945 telah maju pesat, sedangkan perindustrian Tegal yang telah ada sejak zaman Belanda jalan di tempat. Mengapa? Masalahnya pada pada QCD (Quality, Cost, Delivery). Budaya kuantitatif (statistika) yang dimotori oleh W. Edward Deming dipadukan dengan kearifan lokal mendasari produk Jepang yang berkualitas tinggi, berharga rendah dan dikirim tepat waktu. Tegal?

Izinkan kami bercerita. Pada tingkat akhir di jurusan Teknik Industri ITB, pada tahun 2004, seorang dosen (Dr. Andi Cakravastia) menawarkan tema alih-teknologi. Kebetulan pada saat itu, sejumlah dosen kami menjadi konsultan pada proses alih-teknologi dari Jepang ke Indonesia, salah satunya di Kabupaten Tegal.  Sayang sekali, tema skripsi itu tinggal cerita seiring berhentinya proses alih-teknologi. Mengapa? Jawaban yang sering kami dengar: Tegal tidak siap.

Simbiosis SMK dan Perindustrian

Guna membentuk “budaya industri”, supaya jargon “Jepangnya Indonesia” bukan pepesan kosong, mengenal perindustrian di akhir kuliah sebenarnya sangat terlambat.  Sebagian besar mahasiswa cerdas asal Tegal kuliah di kota besar dan setelah itu pada umumnya tidak kembali ke Tegal. Oleh karena itu, konektivitas perindustrian dan pendidikan seharusnya dikembangkan lebih awal lagi. Jenjang pendidikan SMA/SMK adalah pilihan yang tepat. Mungkinkah?

Pelaku industri di Tegal pada umumnya adalah “orang produksi”. Mereka awalnya sebagai operator produksi di tempat lain. Tidak mudah mengubah pola pikir (mindset), sehingga sampai membuka usaha sendiri pun mereka masih menangani urusan produksi dengan cara-cara jadul. Pembukuan (administrasi) dan pemasaran biasanya merupakan kegiatan yang kurang diperhatikan dan dijalankan dengan bekal pengetahuan yang tidak memadai. Ambil contoh, produsen kacamata kayu “ReWood” di Karanganyar, Kec.Dukuhturi. Walaupun produknya telah menyebar ke mancanegara, “ReWood” belum terdaftar pada Ditjen HaKI Kemenkumham.

Di sisi lain, siswa SMK memerlukan pengalaman kerja. Walaupun “anak kemarin sore”, banyak keunggulan mereka yang tidak ada pada pelaku industri yang pada umumnya bukan orang sekolahan. Mereka bisa merancang dan membantu dalam hal pembukuan sederhana, pembuatan katalog, pemasaran online, dan seribu satu kegiatan lainnya.

Simbiosis SMA dan Perindustrian

Ada yang tahu proses electroplating?

Ketika ditanyakan kepada siswa SMA, mereka tidak bisa menjawab. SMA terlalu teoretis. Metana, amoniak, argon, asam klorida, polietilena, galvalum dan sebagainya bagi mereka adalah istilah yang jauh dan asing. Juga istilah aqua regia, electroplating, dan ratusan istilah lainnya. Padahal bagi pelaku industri di Kabupaten Tegal itu adalah bahasa sehari-hari, meskipun dengan sebutan yang kadang sama. Mengapa mereka tidak dipandu oleh pendidik supaya terbiasa menghubungkan setiap materi pelajaran terkait dengan perindustrian di Kabupaten Tegal? Ini sangat menguntungkan, karena siswa dapat merasakan bahwa apa yang mereka pelajari adalah nyata dan berguna.

Simpulan

Kabupaten Tegal sangat luas. Ada 18 kecamatan dan 287 desa / kelurarahan, terentang di atas wilayah seluas 878,79 km2 yang berarti 22 kali luas wilayah Kota Tegal. PNS, khususnya petugas lapangan yang disebut PFPP (Pejabat Fungsional Penyuluh Perindustrian) yang hanya lima personil, tidak mungkin menangani secara efektif.  Ini memerlukan kebijakan lintas-sektoral, sehingga ABG (Academician, Businessman, Government) dapat melakukan simbiosis mutualisme bagi Kabupaten Tegal sebagai Jepangnya Indonesia. (ahmad thoha faz)

 

Komentar
Tags:
About Author: panturabisnis