fbpx

Menggagas “Poros Ristek”

“Nanti saya bantu promosikan,” kata Ustadz Muhammad Nur Yasin, ketua Yayasan Nidaul Fithrah Surabaya, kepada panturabisnis.com terkait rencana pembentukan Poros Ristek sebagai bagian dari Poros Digital Tegal Jepangnya Indonesia (POTJI). Kebetulan Yayasan Nidaul Fithrah antara lain mengelola sebuah pesantren mahasiswa di dekat kampus ITS.
“Poros” selain berarti sumbu bagi sebuah gerakan, juga merupakan singkatan dari “pemikiran yang menerobos”. Adapun “Ristek”, semua mafhum, adalah riset dan teknologi. Dari namanya sangat jelas semangat untuk menjadikan ristek sebagai salah satu unsur utama membangun daya saing Tegal. Singkat kata, Poros Ristek diharapkan akan menjadi poros perubahan menuju Tegal yang ramah riset.

“Ini adalah kebutuhan penting dan mendesak di kedua belah pihak. Pemerintah dan masyarakat Tegal di satu pihak, kalangan akademisi khususnya yang wong Tegal di pihak lain. Poros Ristek menerobos sekat yang mengisolasi kedua belah pihak tersebut,” kata Akhmad Thoha Faz sebagai konseptor Poros Digital yang saat ini juga sedang menata sistem kerja Potji.com “Portal Tegal Jepangnya Indonesia”.
Thoha tidak mengada-ada. Hanya mengusung tema “gerakan melek internet marketing” saja, begitu banyak siswa dan mahasiswa yang tertarik bergabung. Mereka tidak dibayar, tapi mereka begitu antusias dan penuh disiplin. Etos kerja semacam itu cukup langka ditemukan di kalangan birokrat.

Saat ini pihak yang telah, sedang dan akan menjalin kerjasama dengan Potji.com adalah UI, UNDIP, STMIK YMI, Poltek Harapan Bersama, UII, bahkan ITB. Selain tentu saja dua SMK terbaik Negeri 1 Adiwerna dan SMK Negeri 1 Slawi.

“Kampus adalah gudangnya solusi. Mereka perlu masalah nyata untuk menerapkan ilmunya, melalui kerja praktek maupun penelitian selevel skripsi atau tesis. Jadi, bagi mahasiswa asal Tegal yang saat ini tersebar di sejumlah kampus besar, tidak pulang kampung hanya sekadar untuk pamer jaket. Jadi mengapa mereka bergerak? Karena Poros Ristek akan sangat menguntungkan dan membanggakan mereka,” kata Thoha yang juga merupakan anggota komite IPTEK KADIN Kabupaten Tegal.
Masyarakat Tegal sendiri, apalagi sebagai “Tegal Jepangnya Indonesia” membutuhkan dukungan riset yang terstruktur, sistematis, masif dan berkelanjutan. Memang Tegal tidak memiliki kampus besar, namun era digital sekarang ini jarak geografis bukan penghalang. Sinergi antara potji.com, Kampung UKM Digital dan nantinya Poros Ristek, yang semuanya terintegrasi dalam wadah Poros Digital, diharapkan mampu mengembalikan pamor Tegal sebagai Jepangnya Indonesia. (pb)

Komentar
Spread the love

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *