Ini bermula dari Titik Ba. Anda masih mengingat Titik Ba? Buku pemikiran utuh terbitan PT Mizan Pustaka, Bandung, sejak Juli 2007 itu sempat menggegerkan Tegal. Pasalnya, bupati Tegal waktu itu, Agus Riyanto (AR), memimpin langsung acara launching karya pemuda asli Kabupaten Tegal: Ahmad Thoha Faz.

Tidak berlebihan untuk karya intelektual yang mendapat pujian banyak tokoh nasional seperti rektor ITB Prof.Dr.Ir.Djoko Santoso,MSc, ketua umum PP Muhammadiyah 2000-2005 Prof.Dr. Ahmad Syafii Ma’arif dan ketua MUI Kota Bandung Prof.Dr.KH.Miftah Faridl. AR juga mendorong lulusan Teknik Industri ITB tersebut untuk berkontribusi melalui ijtihad intelektual di daerah. Namun, mencetuskan dan merumuskan ide orisinal, solid, aplikatif dan berdaya dobrak tidaklah mudah. Itu adalah pekerjaan sunyi, sukarela, panjang tidak jelas ujungnya dan berdarah-darah. Sampai kemudian AR masuk bui pada November 2011, konsep yang dijanjikan tidak kunjung jadi.

Pada alur kisah lainnya, melalui seorang rais syuriyah PBNU, Titik Ba sampai ke tangan Utomo Dananjaya, direktur Institute for Education Reform (IER). Pada Maret 2008, pendiri Yayasan Wakaf Paramadina Mulya bersama Nurcholish Madjid itu mengundang pemikir dan praktisi pendidikan itu bergabung. Bersama IER, seolah menguatkan dukungan AR, mantan guru honorer SD itu dipercaya “menerjemahkan” Titik Ba ke tataran praktis, hingga kemudian muncul metode berpikir yang disebut Metode aRTi. Namun, sebelum kerjasama itu berbuah konsep aplikatif yang matang, kakek berusia 78 tahun itu berpulang ke rahmatullah pada 22 Juli 2014 disusul istrinya dua hari kemudian.

Sebelum meninggal, berulangkali Utomo Dananjaya menyatakan akan membawa Metode aRTi ke Anies Baswedan, rektor Universitas Paramadina waktu itu. Namun tatkala Metode aRTi mendekati matang, almarhum belum juga menyampaikan ide revolusioner itu ke Anies yang saat itu menjadi anggota tim sukses Jokowi-JK pada pemilihan presiden 2014. “Anies sedang sibuk,” kata ketua umum Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PB PII) 1967-1969 itu.

Mundur beberapa tahun ke belakang. Sebagai tindaklanjut seminar Metode aRTi di IER Universitas Paramadina pada 18 Juni 2009, putra kyai desa itu segera mendirikan Sekolah Ilmu Eksakta (SIE) yang berlokasi di Mejasem Barat, Kabupaten Tegal. Di laboratorium kecil Metode aRTi tersebut konsultan IER ini berinteraksi dan mengajar langsung siswa SD, SMP dan SMA. Berikutnya, sebagai sosialisasi dan sekaligus menggali umpan-balik, penyuluh perindustrian (PNS) ini aktif mengisi sejumlah pelatihan bagi guru dan orangtua, salah satunya yang terjauh di Palembang yang diselenggarakan oleh PT PUSRI pada Januari 2011.

Sebagai konsep aplikatif, Metode aRTi belum lengkap. Sebab metode selalu memerlukan teknik detail dan sarana penunjang. Oleh karena itu, melalui TITIKBALIC (Titik Ba Learning & Inspiration Center), Ahmad Thoha Faz berkolaborasi dengan Hendri Lisdiantoro (pengelola Lingkar Aksara Margadana, Kota Tegal) dan Abu Ma’mur MF (praktisi hynoteaching) mengembangkan Matematika Detik (The Second Mathematics). Rencananya dimulai pada bulan Februari 2015 nanti, TITIKBALIC akan menggandeng sejumlah pihak untuk melakukan sosialisasi berupa kegiatan pelatihan dan pengukuran Matematika Detik. Di antara yang telah menyatakan kesedian adalah PKPU Cabang Tegal, Panti Asuhan Muhammadiyah di Slawi, PCNU Kabupaten Tegal, PCNU Kota Tegal, beberapa majlis ta’lim Khusnul Khotimah di perkampungan nelayan Kota Tegal, dan sebagainya.

Tinggalkan jari-jemari, gunakan pikiran refleksif !

Apakah siswa SMP atau SMA dijamin bisa tambah, kurang, kali dan bagi? Nanti dulu! Tentu saja mereka bisa. Masalahnya pengalaman sehari-hari menunjukkan bahwa tidak sedikit dari mereka masih menggunakan jari-jemari. Pertanyaannya: apakah kebiasaan tersebut bermasalah? Mengapa?

Mari kita lihat lebih dekat. Sebelum bisa berjalan dan berlari, kita belajar merangkak. Namun kita sekarang tidak merangkak untuk berpindah tempat, bukan? Merangkak adalah ” keterampilan antara” untuk mempelajari keterampilan yang sesungguhnya: berjalan tegak dengan dua kaki. Begitu juga mengeja huruf ketika belajar membaca. Saat ini anda mengenali huruf secara refleks atau spontan, bukan? Apakah anda masih mengeja tatkala membaca tulisan ini? Begitu juga kita menggunakan jari-jemari ketika belajar berhitung. Setelah itu seharusnya jari-jemari ditinggalkan.

Faktanya tidak demikian. Ibarat mengukir di atas batu, kebiasaan yang ditumbuhkan sejak kecil tidak mudah dihapus. Banyak siswa SMP dan SMA masih terpaksa melepas pulpen atau pensil mereka demi menggunakan jari-jemari mereka untuk menentukan nilai 8 + 6 atau 7 x 8. Tanpa disadari, tindakan itu menghambat dan mengganggu alur pikir. Alih-alih berfokus pada tema utama, misalnya bagaimana memahami luas bangun datar, mereka berkutat terus pada tambah-kurang-kali-bagi. Ini serupa dengan anak yang masih mengeja ketika sedang membaca kisah si kancil.

Sebelum terlambat, kita seharusnya memastikan bahwa setiap siswa menguasai keterampilan berhitung dasar sampai tuntas. Supaya tidak rancu, ketuntasan tersebut sebaiknya harus terukur secara kuantitatif. Sebaliknya, jika tidak lancar membaca angka, siswa selalu akan tersandera atau setidaknya terhambat untuk memahami materi pelajaran yang melibatkan angka. Tepat itulah tema yang diusung Matematika Detik. Dengan teknik tertentu, yang dirancang detail, Matematika Detik meningkatkan kecepatan berhitung dasar, seperti 8 + 6 dan 7 x 8, hingga ke level berpikir refleksif—serupa siswa membaca “ini budi, ini ibu budi” tanpa perlu mengeja.

Lebih dari itu, kebiasaan berhitung refleksif lebih dari sekadar masalah matematika; ini masalah otak! Ini adalah cara bagaimana meningkatkan kinerja otak, seperti kreativitas dan daya ingat, serta mencegah kepikunan dini (alzheimer). Oleh karena itu, Matematika Detik sangat bermanfaat bagi anak usia sekolah, mahasiswa, orang dewasa dan bahkan usia lanjut. Mengapa? Setelah melakukan riset intensif selama dua puluh tahun Profesor Ryuta Kawashima, seorang ahli otak Jepang, menegaskan dalam bukunya Train Your Brain: 60 Days to a Better Brain (2003) bahwa cara terbaik merangsang otak adalah dengan mengerjakan matematika yang gampang dengan cepat dan membaca dengan keras.

Apa itu Matematika Detik?

Matematika Detik sejalan dengan anjuran Profesor Kawashima dalam hal mempromosikan kegiatan mengerjakan matematika yang gampang dengan cepat. Di luar itu, Matematika Detik memiliki banyak keunggulan dan keunikan sendiri. Di sini, sebagai perkenalan, dikemukakan lima point penting saja.
Pertama, pada mulanya Matematika Detik dirancang untuk memudahkan siswa sehingga berkaitan dengan matematika dan matapelajaran lainnya di sekolah. Pada tahun pelajaran 2014-2015 ini, “penikmat” Matematika Detik sejauh ini hampir seluruhnya adalah siswa aktif. Di antara mereka adalah juara fisika lintasan angkatan di SMA Negeri 1 Tegal, yaitu Yohanes Leonard (ranking 1 paralel kelas XII), Hardika Wiga Pradana (ranking 1 paralel kelas XI) dan Malik Hisyam Adnan (kelas X, mantan ketua OSIS SMP Negeri 2 Tegal). Pada jenjang SMP ada trio juara yang semuanya kelas IX SMP Negeri 7 Tegal: Arya Pratama Putra (juara OSK matematika), Kamal Sueb (juara OSK fisika, mantan ketua OSIS) dan Syaifullah Hanif Wibisono (duta wisata Kota Tegal).

Namun demikian, Matematika Detik juga bermanfaat bagi orang dewasa. Ini karena, berdasarkan hasil penelitian Kawashima, Matematika Detik akan menyegarkan dan meningkatkan kemampuan otak khususnya prefrontral cortex dengan cara yang terbaik, bukan cara medioker. Hasil penelitian Kawashima membuktikan bahwa berhitung cepat meningkatkan daya ingat sampai lebih dari 20 persen. Jadi, seperti halnya olahraga pagi dan tidur siang sejenak, ini adalah kegiatan yang rekreatif!

Kedua, deretan angka pada Matematika Detik tersusun vertikal tanpa simbol yang tidak perlu seperti “+” (tambah) dan “=” (samadengan). Ini lebih serupa dengan tes Kraeplin atau Pauli yang begitu terkenal pada psikotes. Kedua tes itu bertujuan sama: mengukur ketelitian, kecepatan, daya tahan dan konsistensi. Itu jelas berbeda dengan Matematika Detik, yang bertujuan melatih kinerja otak dan memperbaiki kecepatan baca angka. Tujuan yang berbeda membuat banyak perbedaan besar dalam hal content dan teknis pengerjaan. Pada Matematika Detik, pengukuran sebenarnya hanya untuk memotivasi karena ilmu manajemen menyatakan bahwa “measurement is a powerful motivator”.

Ketiga, Matematika Detik adalah second mathematics. Selain berarti “detik”, second juga berarti “kedua”. Maksudnya, sejak awal Matematika Detik yang wujud kasatmatanya berupa “olah angka” itu hanyalah matematika kedua. Maksudnya Matematika Detik tidak untuk mengganggu matematika pertama (first mathematics), yaitu matematika di sekolah yang (seharusnya) berfokus pada olahpikir. Matematika Detik adalah sarana pemanasan mental sebelum menghadapi matematika pertama dan matapelajaran kognitif lainnya.

Keempat, jangan membayangkan Matematika Detik sebagai sesuatu yang memeras otak. Berbeda dengan metode olah angka lainnya, di Matematika Detik tidak diajarkan atau diujikan olah angka yang rumit, seperti perkalian dua digit. Kuncinya, ingat Kawashima: “… mengerjakan matematika yang gampang dengan cepat… Maka tidak aneh apabila banyak kesaksian mengatakan bahwa anak yang alergi dengan angka menjadi kecanduan matematika berkat Matematika Detik.

Kelima, Matematika Detik tidak bermaksud menciptakan “manusia kalkulator”. Ini karena fokus sesungguhnya adalah pada olahpikir, bukan olah angka. Prinsipnya, seperti dijabarkan dalam Metode aRTi, “otak berpikir, kalkulator berhitung”. Oleh karena itu, setelah modul pertama bertema “baca angka secepat baca kata”, tema berikutnya adalah “otak bukan kalkulator!”


Buku buah olahpikir Ahmad Thoha Faz, alumni ITB, ini segera diterbitkan oleh PT Intan Pariwara. Anda bisa preorder dengan cara mengisi formulir DI SINI

Komentar
Tags:
About Author: panturabisnis