Oleh Ahmad Thoha Faz

Akhir bulan lalu, yang berarti juga akhir tahun lalu, satu keluarga seorang dosen UI datang ke Tegal untuk berdiskusi Matematika Detik (MD). Beberapa hari lalu, secara terpisah, ada dua sosok sahabat yang menyatakan akan datang ke Tegal khusus untuk belajar Matematika Detik. Yang seorang adalah eksekutif di PT PUSRI Palembang, lainnya seorang adalah konsultan sumberdaya manusia.

Tidak Boleh Berkelas Lokal

Itulah yang aku maksud, bahwa gagasan MD tidak boleh berkelas lokal. Guna menjadikan MD sebagai ikon ekonomi kreatif Tegal, kota dan kabupaten, gagasan MD harus diperhitungkan secara nasional, bahkan global. Aku menjadi paham emosi almarhum Utomo Dananjaya, mentor utama di balik MD, dengan nada tinggi mengatakan, “Level dunia, dong!” Aku telat berpikir. Perlu beberapa tahun untuk mencerna maksud pendiri Universitas Paramadina itu.

Dengan diterbitkan PT Intan Pariwara penerbit nasional terkemuka spesialis buku sekolah, gagasan MD sudah masuk kelas nasional. Tapi itu belum cukup. Ada berapa banyak buku yang diterbitkan secara nasional?

Oleh karena itu, bukan hanya dikenal dan tersebar secara nasional, melainkan BENAR-BENAR dikenal dan tersebar secara nasional. Peran media nasional, baik cetak maupun elektronik, menempati peran kunci. Setelah berulangkali dimuat di SUARA MERDEKA, koran nomor satu di Jawa Tengah, MD seharusnya naik kelas dengan dimuat di KOMPAS dan TEMPO. Juga setelah ditayangkan di NET TV Jawa Tengah, MD sebaiknya muncul pula di sejumlah televisi nasional.

Popularitas Harus Bertahan

Popularitas hanya kulit. Berapa banyak sesuatu yang terkenal secara nasional, akhirnya tersapu waktu dalam waktu yang sangat singkat? Popularitas MD harus bertahan lama, supaya cukup waktu mengendap menjadi pola pikir dan kebiasaan masyarakat.

Memang MD demikian adanya. MD yang muncul di media baru secuil. Hanya bagian dari MD Level A “Baca Angka Secepat Baca Kata”. Masih ada MD Level B “Otak Bukan Kalkulator”, Level C “Berpikir Sebelum Bicara” dan Level D “Rekatkan! Ciptakan!” (Pola Pikir Inovator). Semua itu tidak akan muncul sekaligus, tapi berangsur-angsur selama 2-3 tahun.

Dan, setelah seluruh level MATEMATIKA DETIK (Second Mathematics) sudah terbit, masih ada yang jauh lebih besar: MATEMATIKA UTAMA (First Mathematics).
Itu kerja yang sangat besar. Dukungan semua pihak seluas-luasnya sangat menentukan. Maka sedari awal PPMD menegaskan bahwa Tegal adalah laboratorium besar. Seluruh sekolah, swasta maupun negeri, di Tegal seharusnya terhubung dalam jejaring PPMD.

Penelitian besar menuntut kerjasama dengan sejumlah kampus yang salah satu tugasnya memang meneliti. Sedari awal, PPMD menjalin kerjasama dengan sejumlah kampus. Ke depan, sejumlah kampus besar di Indonesia insya Allah akan menjadi rekan pengembangan Matematika Detik. (pb)

Komentar
Tags:
About Author: panturabisnis