BEBERAPA kepala wayang golek tergeletak di kursi ruang tamu. Terbuat dari kayu dan masih polos. Belum dicat atau diberi warna. Namun karakter wajah wayang golek itu sudah terlihat jelas.

“Itu wayang golek cepak Tegal. Belum jadi,” ujar Wahyo saat ditemui di rumahnya, di Kelurahan Sumur Panggang RT 03 RW 01 Kecamatan Margadana, Kota Tegal.

Turunan Seorang Dalang

Lelaki kelahiran 1978 itu memang menekuni kerajinan membuat wayang golek cepak Tegal. Keahlian tersebut diturunkan dari seorang dalang, Tasrip, yang dikenal dengan panggilan Ki Bogem, yang tak lain adalah ayah kandung Wahyo.

“Tahun 90-an, bapak masih sering manggung,” tutur dia.

Sejak SMP, Wahyo sudah ikut menekuni pembuatan wayang golek yang menjadi usaha ayahnya. Saat duduk di bangku SMA, Wahyo bisa menggelar pameran wayang cepak Tegal di GOR Wisanggeni. Hingga kini, bersama keluarganya, Wahyo masih mengerjakan pesanan wayang golek cepak Tegal. Pembuatan satu golek cepak membutuhkan waktu minimal satu minggu. Kalau makin rumit, waktu pengerjaan lebih lama lagi. Harga satu golek bervariasi.

“Kalau hanya untuk mainan, minimal Rp 400 ribu per unit. Untuk pentas atau pameran, lain lagi harganya.”

Terbuat dari Kayu Jaran

Kayu yang dipergunakan untuk membuat golek cepak klasik adalah kayu jaran. Kayu tersebut berasal dari tanaman yang tumbuh di air payau, sejenis tanaman bakau atau mangrove. Tanaman tersebut sekarang cukup sulit didapat.

“Yang sering digalakan memang menanam mangrove. Tapi itu bukan jenis kayu jaran,” kata dia.

Untuk mengatasi kesulitan bahan baku kayu jaran, Wahyo telah budidaya tanaman tersebut. Namun butuh umur lima tahun, kayu tersebut bisa dimanfaatkan untuk membuat wayang golek cepak.

“Kalau golek hanya untuk mainan, bisa dibuat dari kayu apa saja. Tetapi yang klasik harus pakai kayu jaran. Kayu ini tahan lama dan tidak diserang hama,” terang dia.

Bukan Hanya Soal Bisnis

Bagi Wahyo, kerajinan membuat wayang golek cepak bukan hanya soal bisnis. Tetapi sebagai upaya melestarikan budaya asli Tegal. Ia juga bertekad mempertahankan pakem. Karena itu, tidak mau terbawa arus perubahan seni pertunjukan wayang yang berkembang keluar dari pakem. Termasuk dalam pembuatan wayang.

“Ini wayang golek klasik. Ki Enthus kalau pesan wayang golek klasik juga ke sini. Tidak hanya Ki Enthus, sudah banyak dalang yang pesan wayang klasik ke sini,” ungkap dia.

Wahyo menegaskan, wayang golek cepak Tegal berbeda dengan wayang golek dari Bandung yang berasal dari kisah mahabarata dan ramayana. Wayang golek cepak, kisahnya diambil dari cerita rakyat, dongeng atau kisah lainnya. Dan, dalam pertunjukkannya, tidak harus semalam suntuk.

“Bisa cukup dari jam 8 malam, selese jam 12 malam.”

Berbagai Karakter

Untuk keperluan pentas, menurut Wahyo, satu set dengan isi 70 wayang sudah cukup. Kalau mau lengkap, satu set berisi 114 wayang dengan berbagai karakter.

“Satu tokoh wayang cepak memiliki satu karakter. Masing-masing karakter juga ada tingkatannya.”

Wahyo merasa prihatin dengan makin banyak warga Tegal yang tidak tahu budaya asli daerah. Bahkan di sekolah pun seperti tidak pernah dikenalkan. Apalagi mengadakan pertunjukan wayang golek cepak Tegal. Karena itu, ia berharap, pemerintah setempat atau siapapun yang peduli dengan budaya asli, turut memperhatikan dan melestarikan wayang golek cepak Tegal.
Data IKM

Nama : Wahyo
Tempat/Tgl Lahir : Tegal/24 April 1978
Alamat : Kelurahan Sumur Panggang RT 03 RW 01 Kecamatan Margadana, Kota Tegal.
No HP : 081902482791
Bidang Usaha : Produksi Wayang Golek Cepak Tegal

Komentar

Anda perlu tahu info lainnya tentang:

  • nama tokoh wayang golek
Tags:
About Author: panturabisnis