fbpx

LeNTera “Merindukan” Radar Tegal yang Dulu

diskusiOleh Akhmad Thoha Faz
Penulis Buku Titik Ba
Mantan Direktur Lentera

“Apa perlu dihidupkan lagi LeNTera? Atau dibuat diskusi tentang netralitas dan keadilan informasi publik?” tanyaku pada Kang Muhammad Abduh.

Muhammad Abduh tidak perlu dibela. Meski kami bersahabat, membela seseorang tidaklah keren. Namun karena cerita ini bersangkut paut dengan koran yang dibaca secara luas, yang membentuk opini publik, ada alasan lain untuk lebih peduli. Man la yahtamma bi amril muslimina fa laisa minhum (siapapun yang tidak peduli dengan masalah umat, dia bukan bagian dari umat). Tentu saja siapapun tidak mau membaca media massa yang (sebagian pemimpinnya) tidak netral dan mudah dibeli oleh kekuasaan. Ini harus diakhiri!

Media massa konon adalah kekuatan ke-4 di luar trias politica (legislatif, eksekutif, yudikatif). Sekarang, dengan munculnya media sosial seperti Facebook ini, pengaruh media massa memang semakin kecil. Tentu saja sebaiknya berdoa, media massa yang dari pikiran sudah tidak adil semoga selekasnya menyingkir.

Kang Abduh berulangkali mengingatkan aku tentang waktu sholat, juga ketika aku tidak etis dalam berbuat. Tidak banyak yang seperti itu. LeNTera (Lembaga Nalar Terapan) bisa besar dan berpengaruh pada waktu itu sedikit banyak karena kebijakan pemimpin redaksi Radar Tegal bernama Muhammad Abduh.

Diskusi pertama bertajuk “Tegal Jepangnya Indonesia” bertempat di ruang Radar Tegal. Lalu tulisan wartawan dan cendekiawan Radar Tegal, Akhmad Saefudin, dimuat satu halaman penuh di koran lokal terbesar di Tegal dan sekitarnya tersebut. Aku ingat pasti suasana di suatu malam pada tahun 2008 itu, karena sebagai direktur LeNTera pada waktu itu aku juga menjadi moderator diskusi.

LeNTera pada era sebelum munculnya Facebook begitu berpengaruh. LeNTera (kemudian dipimpin oleh tokoh muda Muhammadiyah, Ustadz Fathin Hammam Dhomiri dan “tokoh silaturahim” Tegal Saunan Rasyeed) berhasil menarik begitu banyak tokoh Tegal. Antara lain budayawan pantura Atmo Tan Sidik, tokoh kritis Kota Tegal Abdullah Sungkar, anggota DPRD Jawa Tengah Wahyudin Noor Aly, anggota DPR Fikri Faqih, penulis produktif Toto Subandriyo, bupati Agus Riyanto, pengusaha dan sesepuh LIK Abdullah AN, dan banyak lagi lainnya. Benar-benar lintas partai dan lintas golongan.

Harus diakui, munculnya potji.com (Portal Tegal Jepangnya Indonesia) milik Pemerintah Kabupaten Tegal tidak terlepas dari acara yang digagas LeNTera tersebut. Dan lagi-lagi peran Kang Abduh tidak bisa dianggap kecil.

“Kang, saat ini popularitas potji.com di Indonesia telah mengalahkan radartegal.com. Apa perlu dimuat di panturabisnis.com?”

“Tidak usah, mas. Nanti dikira saya dendam,” kata Kang Abduh, seorang pemegang kualifikasi “wartawan utama” satu-satunya di daerah Tegal dan sekitarnya.

Kini, Kang Abduh didepak dari pemimpin redaksi Radar Tegal. Mungkin orang mengira luas dan kuatnya jaringan (kenalan) seorang pemred. Namun Kang Abduh tidak. Demi menjaga netralitas, selama menjadi pemred, sarjana pertanian Unsoed ini “puasa jaringan”. Sebuah langkah idealis yang lugu!

Kini, Kang Abduh didepak lagi. Ancaman terhadap asap dapur dan masa depan anak-anaknya semakin serius. Sebagai sahabat, aku hanya bisa mendoakannya, menyebut namanya selepas sholat. Siapa yang peduli kalau bukan sahabat? Jika aku bisa menulis, aku akan menulis. Tulisan ini aku buat, sebagai tanda bahwa kita bersahabat. You never walk alone, Kang. (*)

Komentar
Spread the love

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *