fbpx

Lagi Lagi Bunyamin!

“Salam buat guru di Tegal ini ya,” kata pembaca, seorang lulusan ITB, kepada panturabisnis.com sambil menunjukkan tautan kompas.com.

Guru yang dimaksud tentu Rizma Uldiandari, bukan Bunyamin Yusuf. Sensasi memang menyebar lebih cepat ketimbang prestasi. Sensasi adalah masalah emosi, lekas tersulut lekas pula meredup.

Baru saja kemarin, panturabisnis.com membuat berita berjudul “Bunyamin atau Rizma”, hari ini lagi-lagi Bunyamin mengukir prestasi.
“Subhanallah wal hamdulillah…. Terimakasih tak terhingga kepada semua teman-temanku. Setelah proses seleksi yang cukup ketat Allah memberi anugerah kepadaku untuk bisa menjadi guru di SILN Mekkah. Sungguh anugerah terindah dalam hidupku. Mohon doanya semoga bisa amanah dan bisa menjadi duta Indonesia dengan penuh tanggung jawab,” tulis guru SMP Negeri 1 Slawi itu di dinding Facebook.

Tidak mudah untuk menjadi guru Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN). Ada lima mata uji untuk bisa menjadi guru SILN, yaitu tes kompetensi pedagogik dan profesional, tes psikologi, tes kemampuan bahasa asing, tes TOEFL, wawancara, dan micro teaching dalam bahasa asing. Penguji tidak hanya dari kemendikbud, tetapi juga dari unsur Balai bahasa Internasional UI, serta dari Puspendik dan Kemenlu. Peserta yang dipanggil untuk mengikuti seleksi tahap akhir adalah peserta yang benar-benar memenui kualifikasi dan persyaratan yang telah ditentukan oleh Kemendikbud.

PENDIDIKAN DAN EKONOMI KREATIF

Munculnya fenomena Bunyamin semoga menginspirasi Tegal untuk siap membangun industri atau ekonomi kreatif. Seperti kita tahu, ekonomi kreatif sangat ditentukan oleh kreativitas dan inovasi. Tentu saja “wajah” (tampilan luar) penting sebagai daya tarik pertama, namun otak di baliknya itu kunci daya saing sesungguhnya. Dan dalam hal ini, Rizma sang guru SD cantik dan Bunyamin sang guru SMP yang cerdas tepat sekali menjadi inspirasi.

Selain dua sosok fenomenal itu, Tegal menyimpan sosok lain yang tidak kalah inspiratif. Arif Maulana, pemilik jaringan bimbel Bina Cendekia (BC), satu di antaranya. Lulusan Teknik Kimia ITS yang sempat bekerja di Kompas-Gramedia itu menyimpan energi besar pada reformasi pendidikan. Alumnus SMP 1 dan SMA 1 Slawi yang kini memimpin PPMD (Pusat Pengembangan Matematika Detik) itu berharap Tegal menjadi destinasi wisata cerdas, seperti Kampung Inggris Pare Kediri.

“Nantinya, siapa yang mau belajar tentang Matematika Detik, silakan datang ke Tegal,” ujar Arif.

Memang tidak lama sebelumnya ada pejabat di PT PUSRI Palembang yang hendak meluncur ke Tegal untuk belajar Matematika Detik. Sayangnya Tegal belum siap. Rabu malam Kamis ini, 10 Agustus 2016, potji.com hendak mengadakan diskusi bertema “Poros Digital dan Ekonomi Kreatif”. Acara yang didukung oleh DPD KNPI Kabupaten Tegal nanti akan dihadiri oleh A Fikri Faqih, wakil ketua komisi X DPR RI, seorang staf ahli Badan Ekonomi Kreatif, sejumlah PNS yang tergabung di forum diskusi ideA dan terutama kalangan praktisi ekonomi kreatif. (pb)

Komentar
Spread the love

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *