LAYAR monitor menampilkan laman panturabisnis.com. Seorang pria berpakaian hijau LINMAS mencermati isinya, dari awal hingga akhir. Tentang duet Imam Khifni-Mulyani dengan kacamata kayu “ReWood” ciptaan mereka yang mulai mendunia.

“Saya ingin ketemu dengan manusia-manusia langka seperti ini,” kata pria itu yang tidak lain adalah Bambang Susanto, kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (DISPERINDAG) Kabupaten Tegal.

Bagi panturabisnis.com ujaran kepala DISPERINDAG adalah kebahagiaan yang luar-biasa. Mengapa?
Satu dari dua pendiri panturabisnis.com, yakni Ahmad Thoha Faz, adalah seorang penyuluh perindustrian yang notabene anggota inti UPL (Unit Pendampingan Langsung) DISPERINDAG. Sesuai namanya, tugas UPL adalah melakukan pendampingan industri kecil secara LANGSUNG. Thoha adalah agen pemerintah yang bertugas mengendus potensi dan masalah perindustrian di garda terdepan.
Faktanya, Thoha kalah langsung dengan pengusaha asal Singapura yang lebih dulu mengunjungi tempat produksi ReWood JavaCraft di pelosok. “Terus terang kami kecewa dengan pemerintah. Kami menghindari urusan dengan pemerintah. Toh, program pemerintah seringkali tidak match dengan kebutuhan pelaku industri,” terang pria kelahiran Margasari itu.
Itu kekecewaan umum, bukan ReWood seorang. Mengapa pemerintah gagal memahami kebutuhan pelaku industri kecil? Salah satunya adalah keterbatasan personil. Berbeda dengan dinas pertanian, misalnya, penyuluh di DISPERINDAG, jumlahnya sangat terbatas. Bayangkan, 5 (lima) personil untuk 18 kecamatan.
Akhirnya, Imam Khifni mulai berbaik sangka kembali dengan pemerintah. ReWood tahun ini akan mendapat bantuan pemerintah terkaitan pendaftaran merek. “Bolehlah antipati dengan pemerintah. Namun masalah legalitas, pemerintah tidak tergantikan,” pungkas Thoha, lulusan terbaik dari Tegal pada Diklat Penyuluh Dasar. (bp)
Komentar
Spread the love
Tags:
About Author: panturabisnis