Seperti sering saya tulis di media sosial, saya adalah PNS yang secara “resmi” dinyatakan sebagai terburuk dan satu-satunya yang tinggal kelas. Fakta semacam itu sangat-sangat menyakitkan. Tentu. Buruk, sangat buruk, tidak apalah. Tapi kalau paling buruk, bahkan jauh lebih buruk ketimbang PNS yang tidak jelas kerjanya itu sungguh terlalu. Dan itu resmi, karena berulangkali saya disuruh memperburuk “rapor kepegawaian” saya.
Namun, dari rasa sakit itu pula saya kemudian menghidupkan kembali Matematika Detik. Dan serangkaian keajaiban pun datang beruntun tiada henti. Alhamdulillah.
Bagaimana bisa menjadi PNS terburuk dan satu-satunya yang tinggal kelas? Berikut ini penjelasan subjektif saya. Tentu sangat senang kalau saya ditegur oleh pejabat terkait, atau ada penjelasan resmi dari BKD, atau siapa saja.
Titik Ba itulah awal cerita saya pulang kampung dari 134NDUNG. Sengaja saya tulis begitu. 134 adalah kode program S1 Teknik Industri ITB, tempat gagasan Titik Ba mengalami pematangan hingga diterbitkan oleh penerbit nasional terkemuka. Bahkan, begitu terbit, rektor ITB berinisiatif menyebarkan karya alumni S1-nya itu ke seluruh pimpinan fakultas/sekolah di ITB, yang tentu sebagian adalah profesor. Sungguh karunia yang tidak disangka-sangka.
Jadi, tidak terlalu berlebihan apabila bupati Tegal saat itu (2007), Agus Riyanto (AR), berinisiatif mengadakan acara peluncuran buku yang mungkin terbesar sepanjang sejarah Tegal.
“Titik Ba jika diterjemahkan lebih lanjut, insya Allah akan bermanfaat besar bagi pendidikan di Tegal,” demikian saya sampaikan ketika berbincang empat mata di mobil G1. Maka, pada acara peluncuran di Klonengan, Margasari, itu diundang seluruh kepala SMP/SMA/SMK dan kepala UPTD Dikpora, selain seluruh kepala SKPD.
“Manfaatkan saya selagi saya menjadi bupati,” kata AR.
“Saya perlu waktu tiga tahun, Pak.”
Ternyata tiga tahun berbilang, kerja purnawaktu dan sukarela belum berbuah nyata. Hingga kemudian, atas saran sekretaris daerah waktu itu, saya diminta mengikuti seleksi CPNS.
“Tugas saya apa, Pak?”
“Ya, kerjaan Mas Thoha saat ini.”
Di luar dugaan, sebelum saya menjadi CPNS, tepatnya Maret 2008, saya diundang oleh Mas Tom (Utomo Dananjaya”, pendiri Universitas Paramadina, yang ternyata pengagum Titik Ba. Ketika berbincang empat mata di mobil pribadinya, saya katakan, “Jika Titik Ba diterjemahkan lebih lanjut, insya Allah bermanfaat besar bagi reformasi pendidikan di Indonesia.” Dan untuk tujuan itu, saya diangkat menjadi konsultan IER (Institute for Education Reform).
Ternyata kemudian AR masuk bui (2011). Dan Mas Tom meninggal dunia, disusul dua hari kemudian oleh istrinya (2014). Praktis, hubungan saya dengan IER terputus, karena dengan dua sejoli kakek-nenek itulah saya berdiskusi.
Kemenangan Enthus-Umi menambah sulit situasi. “Jangan macam-macam. Kamu tidak sakti lagi,” kata kepala dinas atasan saya.
Teguran yang wajar. Opini publik memang menganggap saya adalah anak emas AR. Dan opini publik pula menganggap Enthus adalah seteru AR. Situasi misi “membumikan Titik Ba” pun semakin tercekik. Pada situasi semacam itulah saya ditetapkan sebagai PNS terburuk dan satu-satunya yang tinggal kelas.
Yang publik tidak tahu adalah bahwa saya juara 1 ke-NU-an tingkat Kabupaten Tegal semasa di SMP Penawaja. Dan Enthus-Umi mengklaim dirinya didukung oleh warga NU.
Tidak aneh, meski baru pertama berjumpa dengan wakil bupati yang juga ketua Muslimat NU, serasa kami telah mengenal lama. Beliau menanyakan kasus kepegawaian saya, tapi saya menganggap kasus saya tidak penting. Saya hanya minta diberi ruang untuk bisa terus bermanfaat.
Keberuntungan, saya ditunjuk atas menjadi konseptor dan eksekutor Potji.com. Inilah saatnya melawan prasangka buruk yang telah melembaga. Meski mendapat kucuran dana APBD Rp 0 (nol rupiah), kiprah Potji.com tidak terlalu buruk. Karena andil Potji.com pula, KADIN bangkit. Dan bersama KNPI, Potji.com menjadi motor gerakan melek internet marketing. Potji.com pula yang menjadi tuan rumah yang memfasilitasi kerjasama BEKRAF dengan Pemerintah Kabupaten Tegal, yang kemudian berbuah dengan terbentuknya Festival Film Tegal (FFT).
Jadi, ketika Matematika Detik siap diterbitkan, saya tidak merasa beban untuk langsung mengetuk pintu ruang kerja bupati Tegal, Ki Enthus Susmono. Hanya karena “dalang edan” itu tidak ada, saya beralih ke ruang kerja wakil bupati Tegal, Umi Azizah.
“Apa saja yang dapat saya bantu?” tanya lulusan UNDIP itu.
“Pertama, endorsement tertulis. Kedua, peluncuran. Ketiga, sosialiasi.”
Jadi, salah kalau saya dianggap “sakti” karena AR. Yang benar adalah karena “Titik Ba”, berkah dari basmalah.
Wallahu a’lam. (ahmad thoha faz)

Komentar
Tags:
About Author: panturabisnis