Arofatun Ni’mah, nama panggilan Ni’mah, pada tahun 2012 pernah bekerja  perusahaan di daerah Cibitung Bekasi.  Di depan perusahaan itu, ia mendapati penjual bros. Lalu ia beli.

Ni’mah penasaran cara membuatnya. Ia lalu membuka internat tentang cara pembuatan bros. Lama lama ia semakin tertarik dengan bros tersebut. “Saya teringat saat sekolah dulu. Saya suka mengikuti kerajinan tangan. Lalu saya coba membuat bros assesoris kerudung. Pertama saya buat bros buat sendiri dan adik saya,” tutur Ni’mah, pemilik “Ornate Handicraft” di Balapulang Wetan.

Saat masih kerja di Cibitung, ia selalu memakai bros assesoris kerudung buatan sendiri.  Banyak teman-teman kerja yang suka. Dengan modal awal Rp 500 ribu, ia buat bros dan dijual ke teman-teman.

Puluhan bros dengan berbagai bentuk dan warna terpajang di “Ornate Handicraft”. Ni’mah berinovasi dengan memadukan bros assesoris pernikahan. Seperti bros hijab buat pengatin, dan mahar. “Semua assesoris pernikahan saya buat.”

Tahun 2014, Ni’mah pulang kampung dan bekerja di perusahan plastik. Namun kerajinan tangan membuat bros tidak ia tinggalkan. Rumah di  Jl Jatibaràng Gang Cemara RT 02 RW 10 desa Balapulang Wetan Kecamatan balapulang Kabupaten Tegal menjadi rumah produksi.

Pesanan cukup banyak datang melalui media online. Karena itu, awal tahun 2016, Ni’mah berhenti kerja dari perusahan plastik. Ia berniat fokus mengelola Ornate Handicraft.

Ni’mah bersyukur dan bangga hasil kerajinan tangannya diterima di pasaran. Kualitas produknya tidak kalah dari perusahan yang membuat assesoris hijab.

“Saya berani adu kualitas,” ujarnya.

Ni’mah bertekad memproduksi bros lebih banyak dan memperluas jaringan pembeli. Apalagi ada relasi di Hongkong yang pesan bros pengantin.

“Ke depan kami akan memasarkan secara luas dengan memanfaatkan media sosial,” kata dia. (bentar)

 

Komentar
Tags:
About Author: panturabisnis