fbpx

Jauhi Riba, Dapatkan Berkah dan Laba

Ahmad Thoha Faz saat ceramah di rumah yatim.

Secara umum, dunia usaha sedang lesu. Orderan sepi. Tagihan tersendat-sendat. Ketidakpastian politik dan ekonomi benar-benar memukul dunia usaha. Namun, selalu ada perkecualian. Kelesuan itu tidak berlaku pada sejumlah pengusaha komponen sepeda motor klasik, Syaikhu Al Ansori (35 tahun).

Baru beberapa tahun menekuni usaha tersebut, tepatnya sejak awal 2013, usaha warga Pesayangan terus berkembang dan moncer pada saat ini. Baru saja alumni MAN Babakan ini membeli kendaraan roda empat dan tanah-bangunan seluas 154 meter persegi cash. Itu merupakan hasil dari penjualan slebor 15.000 unit, knalpot 20.000 unit dan setang (baru tiga bulan) 1.500 unit. Semua bermerek “Al Part”.

Di industri spare part sepeda motor, Syaikhu pemain baru. Sebagai pebisnis, putra KH.Cholidin (Rais Syuriyah NU Kecamatan Kedungbanteng) ini adalah pemain lama sejak tahun 2000. Syaikhu termasuk pedagang handphone generasi pertama di Tegal. Hasil kerja keras itu semua lenyap akibat ditipu pelanggan yang katanya dari Pakistan, bahkan sampai masuk bui. Berita ini sempat menghebohkan Tegal dan dimuat berkali-kali di RADAR TEGAL.

TINGGALKAN BANK

Pada tahun 2010, Syaikhu berutang ke bank Rp 75 juta. Sebagai jaminan adalah sertifikat rumah milik mertua satu-satunya yang mereka tempati. Namun, semua itu lenyap tidak berbekas tatkala berurusan dengan permainan hukum.

“Usaha dengan bank membuat hidup tidak nyaman. Tidak tidak nyenyak, apalagi menjelang jatuh tempo. Kadang produk dijual rugi demi menepati angsuran dan menjaga muka di hadapan pejabat bank,” jelas Syaikhu kepada panturabisnis.com.

Titik balik terjadi pada 2012 ketika sang ibu meninggal dunia. Sebelumnya sang ibu berwasiat untuk meninggalkan riba. “Dosa riba semua orang sudah tahu. Tetapi orang terlalu mengandalkan otak sehingga menolak,” tambahnya.

Keberuntungan bermula ketika datang order slebor. Syaikhu tidak memiliki modal rupiah maupun keterampilan logam. Terpikir bank? Tidak, apalagi rekam jejaknya di bank tidak baik. Kepepet, pemuda kelahiran Kebandingan, Kecamatan Kedungbanteng, lalu intensif melakukan silaturahim. Kisah sukses dimulai.

Pada awalnya Al Part menggarap produksi dan marketing. Atas saran petugas dari UPL (Unit Pendampingan Langsung) Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Syaikhu lalu berfokus pada marketing. Dengan demikian Al Part dapat leluasa memilih produsen terbaik. “Tanpa bank, hidup lebih tenang. Tidur lebih nyenyak,” pungkasnya.

Pasangan Abdul Syakur dan Ida Irawati, pengusaha komponen telekomunikasi, membenarkan, “Bank awalnya memudahkan. Berikutnya lebih banyak membuat sengsara, bukan membuat sejahtera.”

Usaha logam mereka yang berpusat di Jalan Kemasan, Kalimati, Kecamatan Adiwerna, berkembang pesat tanpa mengenal bank. Bahkan baru saja mereka membeli tanah-bangunan senilai hampir 1 M di jalan raya Margadana untuk diwakafkan ke rumah yatim. Ahmad Thoha Faz diminta mendampingi proses tersebut. (pb)

 

 

 

Komentar
Spread the love

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *