fbpx

Industri Sandang Kecil Mengecil

“Sekarang tenaga kerja berlimpah,” kata Arwani (37 tahun), pengusaha sarung ATBM asal Desa Pacul, Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal, kepada panturabisnis.com.

Mengapa?

Beberapa tahun lalu, industri ATBM di Tegal terpukul hebat akibat krisis politik di Mesir. Ekspor sarung “toldem” ke negeri ke negeri Fir’aun tersebut terhenti. Namun, perlahan-lahan industri ATBM bangkit kembali meski tidak sebaik kondisi sebelumnya karena krisis Timur Tengah belum sepenuhnya pulih.

Kali ini industri ATBM, terutama yang bukan eksportir, mendapat pukulan hebat dari arah lain. Pelemahan nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dollar meningkatkan biaya produksi secara drastis. Pasalnya bahan baku berupa benang dibeli dengan dollar, di sisi lain produk jadi berupa sarung dijual dalam rupiah.

Maka satu demi satu unit industri ATBM ambruk dan pekerja kehilangan pekerjaan. Pada kondisi normal sesama perusahaan berebut karyawan, kali ini karyawan berebut pekerjaan.

INDUSTRI KONFEKSI & BORDIR

“Selama bulan puasa bahkan libur total. Padahal biasanya bulan puasa itu sampai lembur,” kata Nur Kholis (40 tahun), pengusaha konfeksi asal Desa Karangmulya, Kecamatan Suradadi.

Berbeda dengan sarung ATBM yang kebanyakan berorientasi ekspor, produk konfeksi terutama dikirim ke Jakarta untuk kemudian disebar ke seluruh Indonesia. Namun saat ini industri konfeksi sedang tercekik juga. Order dari Jakarta sepi sehingga tidak sedikit perusahaan konfeksi sekarat, apalagi yang terjerat utang bank.

Pelemahan rupiah bukan penyebab pertama dan utama. Sudah sejak masa transisi SBY ke Jokowi, industri konfeksi sudah tampak kurang gizi akibat gonjang-ganjing harga BBM. (pb)

Komentar
Spread the love

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *