fbpx

Industri Pelapisan Logam di Mangunsaren

“Sejak 1997,” kata Kaelani (43 tahun) kepada panturabisnis.com.
Sebelumnya, pria murah senyum ini bekerja sambil belajar di Langgen, Kecamatan Talang, tepatnya di industri logam milik Haji Mukhari, selama 4 tahun. Kini, warga RT 5 RW 1 ini mempekerjakan 5 orang karyawan yang semuanya warga desa setempat: Mangunsaren, Kecamatan Tarub.

Selain Kaelani, masih ada 6 warga Mangunsaren lainnya yang menekuni industri pelapisan logam. Mereka, yang semuanya tinggal di RW 1, a dalah Darto, Teguh Sugiono, Puryanto, Edi Uswanto, Abdulloh dan Nasruddin. Di antara mereka (Darto, Puryanto dan Nasruddin) adalah teman kerja Kaelani, yakni sama-sama alumni Haji Mukhari. “Kalau Teguh Sugiono itu alumni sini. Berarti saya sudah punya murid,” kata Kaelani bangga.

TURUN-TEMURUN, ILMU DAN MUTU SEMAKIN TURUN?

Teguh Sugiono adalah mantan karyawan Kaelani. Kaelani adalah mantan karyawan Haji Mukhari, dan seterusnya. Begitulah pola umum pembelajaran dan penjalaran industri di Kabupaten Tegal. Maka tanpa suntikan pelatihan dari luar, ada kecenderungan kemampuan industri di Kabupaten Tegal semakin merosot. “Kami lebih banyak menerima order KW 2. Kalau di Haji Mukhari kebanyakan KW 1,” kata Kaelani.

Padahal industri electroplating (pelapisan logam dengan bantuan energi listrik) menggunakan produk dan teknologi modern. Di sekolah, proses elektrolisis di balik industri pelapisan logam tersebut baru dikenal, itu pun hanya sekilas, di SMA kelas 12, khusus jurusan IPA. Oleh karena itu, tanpa dukungan pelatihan dan peralatan, masa depan suram menghantui industri pelapisan logam di Tegal. (pb)

Komentar
Spread the love

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *