fbpx

Idris Kembangkan Budidaya Jamur Tiram di Kota Tegal

 

Meskipun sempat ditawari oleh saudara dan orang tuanya, agar pulang ke Banyuwangi (Jawa Timur) untuk budidaya jamur tiram. Namun Syamsiar Idris SE, lebih dikenal dengan Idris, memilih tinggal di Kota Tegal. Mengapa?

PAGI itu, saya mencoba mencari kediaman lelaki, yang namanya cukup terkenal sebagai petani jamur tiram. Sekaligus pembuat baglog (media tanam jamur). Tepatnya di Jalan Mliwis Kelurahan Pekauman Kecamatan Tegal Barat Kota Tegal. Karena alamat yang dituju cukup jelas, tak begitu lama saya berhasil menemukan rumah yang dicari.
Di teras rumah Idris, banyak menumpuk karung berisi serbuk gergajian kayu sengon. Melihat ukurannya, per karung beratnya sekitar 25 kg. Di sisi lain, baglog siap jual tertata rapi, ditutup plastik tipis berwarna hijau. Sehingga sangat yakin, rumah itu benar-benar milik pria, yang mengaku sejak muda hidup sebagai petani, di tempat kelahirannya.

Begitu masuk rumah, saya disambut seorang wanita setengah baya, dengan mengenakan kerudung. Dia tidak lain Rini Handayani SE SPd (istri dari Syamsiar Idris SE). Selang lima menit berikutnya, sang suami menyusul menyambut saya. Ia bersama Sri Murdhiyati Rahayu (ketua Kelompok Usaha Bersama Budidaya Jamur Tiram Al-Barokah), serta Atmo Suwito Rasban (konsultan). Keduanya sengaja meluncur dari Jalan Kamboja RT 05 RW 02 Kelurahan Kejambon,  Tegal Timur Kota Tegal, ke rumah Idris tersebut.

Awal Tertarik Budidaya Jamur Timur

Mengawali pembicaraan, Idris menceritakan awal mula dirinya tertarik budidaya jamur tiram, dan membuat baglog di Tegal. “Kalau di Banyuwangi, sejak tahun 2000 saya jadi petani semangka. Kemudian tahun 2009 pindah ke Tegal, mencoba budidaya jamur tiram. Kebetulan paman menekuni bisnis serupa. Sehingga saya tertarik dan yakin mampu melakukannya.”
Ia mengungkapkan, karena paman berada di Banyuwangi, hampir tiap hari Idris harus merogoh kocek untuk biaya telepon ke luar kota. Terutama berkonsultasi tentang teknik atau cara budidaya jamur tiram, yang baik dan benar. “Namun saya tidak putus asa. Meski sempat gagal beberapa kali. Semangat untuk maju tetap ada. Bahkan saya menggali informasi, tentang potensi pangsa pasar jamur di Kota Tegal. Karena waktu itu belum ada, memantapkan langkah saya untuk terjun lebih jauh,” imbuhnya.

Serbuk Kayu Jati

 

Semula, tutur Idris, dia mencoba membuat baglog sendiri, dengan bahan dasar serbuk gergajian dari kayu jati, yang dibungkus plastik. “Saya beli sama orang di daerah Degong. Waktu itu masih memakai sepeda motor, jadi karung saya taruh di jok bagian belakang. Malah sering kehujanan saat pulang ke rumah. Otomatis serbuk gergajian jadi basah. Sehingga agak susah dibuat baglog. Sebab harus dikeringkan terlebih dahulu. Kalau basah tidak bisa tumbuh jamur, malah mati.”
Dia memaparkan, setelah semua baglog jadi, jumlah sekitar 1.500 bungkus. Semuanya diletakkan di lantai dua rumahnya. Tapi ditunggu berbulan-bulan, belum ada baglog yang menghasilkan jamur tiram, seperti yang diharapkan. “Malah dinding rumah saya di lantai dua sempat retak. Mungkin tak kuat menahan beban baglog. Bayangkan, per bungkus bebannya kurang lebih 1 kilogram. Sedangkan yang di situ ada 1.500 bungkus. Akhirnya sebagian ada yang dipindah ke lantai bawah,” ucap Idris mantap.
Karena merasa malu, jadi bahan pertanyaan tetangga maupun saudara, lantaran baglog yang dibuat belum keluar jamur. Idris bersama istri mencari petani jamur tiram lain di Kota Tegal, untuk membeli baglog yang siap panen dan ada jamurnya. “Waktu itu kami ingin membeli, tapi malah diberi empat bungkus. Lalu dibawa pulang, dan ditaruh bersama baglog berbahan serbuk kayu jati di rumah. Malah kami masuk tidak lewat pintu depan, tapi melalui pintu belakang. Takut ada tetangga yang melihatnya,” kata Idris sembari tertawa terbahak-bahak.

Selang beberapa lama, menurutnya, banyak baglog miliknya keluar jamur tiram. Hal ini bisa saja terjadi. Karena spora jamur yang diperoleh dari petani jamur lokal tadi, menular ke baglog kepunyaan Idris, yang semula dianggap gagal. “Alhamdulillah, akhirnya baglog yang saya buat keluar jamur juga. Malah yang tahu duluan tetangga sebelah. Kebetulan ada yang penasaran ingin melihat langsung.”

Panen Bagi Bagi

Begitu semua jamur tiram siap panen, Idris mencoba membagi-bagikan ke para tetangga di sekitar tempat tinggalnya. Namun sebagian besar menolak secara halus. Bahkan ada yang mengaku takut keracunan. Tak kalah akal, dia mengolah jamur itu menjadi makanan siap saji, seperti kerupuk dan krispi.
“Begitu ada tamu ke rumah saya suguhkan makanan itu. Ketika ada yang bertanya, saya jawab saja bahan dasarnya jamur. Begitu juga kalau pas saya mampir ke rumah tetangga, selalu bawa makanan tersebut. Itung-itung pengenalan produk baru. Seandainya ada yang takut keracunan, saya bilang tidak mungkin. Sebab anak dan istri saya juga suka jamur. Jamur beracun biasanya tumbuh liar di tempat-tempat kotor. Kalau ini kan dibudidayakan tersendiri, dan beda jenisnya,” imbuh Idris lagi.

TURUN KE LAPANGAN

Setelah mencoba membuat baglog berbahan dasar serbuk gergaji dari kayu jati, hasil yang diperoleh cukup memuaskan. Hanya saja waktu yang dibutuhkan lama. Hampir berbulan-bulan. Sehingga Syamsiar Idris SE melakukan terobosan lain.
“Karena serbuk gergaji dari kayu jati, akan tumbuh jamur sekitar tujuh bulan berikutnya. Maka saya mencoba dengan bahan lain, yaitu sengon. Hasilnya cukup fantastis. Sebab dalam waktu tiga minggu, baglog yang saya buat mulai ditumbuhi jamur tiram. Otomatis masa panen lebih singkat, dan perputaran modal tidak terlalu lama,” ucap Idris.
Dia menambahkan, untuk mendapatkan serbuk gergajian kayu sengon tidak begitu sulit. Lelaki asli Banyuwangi ini, mendapat pasokan dari warga di Desa Kademangaran Kecamatan Dukuhturi Kabupaten Tegal. “Tapi belakangan ketika saya minta dikirimi lagi, katanya stok sedang kosong. Sehingga saya mencari di tempat lain. Alhamdulillah ada beberapa pemasok dari daerah lain, yang siap menyediakannya.”

Sebulan Pesanan 2000 – 2500 Baglog

Ketika ditanya bagaimana proses pembuatan baglog, hingga menjadi media tanam jamur tiram yang siap pakai, Idris pun menceritakan secara langsung. “Awalnya serbuk gergajian dari bahan kayu sengon dijemur sampai kering. Kalau masih basah susah diolah, dan tingkat kegagalannya lebih tinggi,” imbuhnya.
Kemudian, tandasnya, serbuk gergajian dicampur bekatul, kapur, gula, pupuk dan sebagainya. Setelah itu dimasukkan ke kantung plastik ukuran gula setengah kilogram, dengan tebal 0,4 cm dan panjang sekitar 30 cm. Bobot per baglog antara 1 – 1,2 kg.
“Kalau sudah dimasukkan kantung plastik semua, tahap selanjutnya sterisilisasi menggunakan dua drum khusus. Tiap drum mampu menampung 168 baglog. Sehingga total bisa 336 baglog. Waktu untuk sterilisasi sekitar 12 jam. Lalu diangkat, dan didinginkan selama 24 jam.”

Lebih lanjut pria beranak tiga ini mengungkapkan, dalam sebulan pesanan baglog sekitar 2.000 hingga 2.500 buah. Semua itu tidak dilakukan sendirian, Idris dibantu oleh tujuh orang tetangga di sekitar rumahnya.
“Tiap baglog yang sudah terisi penuh serbuk gergajian, biasanya saya beri imbalan Rp250. Itu meliputi pembibitan Rp175, dan ongkos mengikat dengan karet Rp75. Para tetangga bekerja mulai jam 18.30 sampai 21.30. Upahnya sistem borongan. Per minggu bisa mendapatkan Rp80 ribu hingga Rp100 ribu tiap orang,” tuturnya didampingi sang istri, Rini Handayani SE SPd.

Harga Per Baglog Rp 2000

Idris menegaskan, harga per baglog Rp2.000. Selama ini, petani jamur tiram yang menjadi langganannya berasal dari sejumlah daerah. Misalnya Maribaya, Kramat, Talang, Mejasem, Kejambon, Slerok, Bumijawa, Brebes, Pengasinan, Cirebon, dan Ciledug (Jawa Barat). “Saya bertanggung jawab penuh terhadap baglog yang dibeli para petani. Seandainya ada yang gagal atau mati, dan tidak sampai keluar jamur. Maka saya siap mengganti seluruhnya, tanpa ada biaya tambahan.”
Dia menandaskan, bagi petani jamur tiram yang baru menjalani usaha tersebut, Idris siap memberikan bantuan. “Hampir setiap hari, saya menerima tamu sekadar berkonsultasi tentang kendala yang dihadapi selama budidaya tanaman ini. Bahkan khusus hari Minggu, saya bersama istri dan anak, selalu terjun ke lapangan. Memantau para petani jamur tiram yang beli baglog di tempat saya.”
Alhamdulillah, saat ini hampir semua petani jamur binaannya, berhasil menjalankan bisnisnya tersebut. (dp)

Komentar
Spread the love

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *