Usulan kebijakan sekolah sehari penuh atau lebih populer saat ini disebut full day school tengah hangat dibicarakan khususnya di kalangan dunia pendidikan dan hal tersebut pun telah menuai banyak respon masyarakat. Pada umumnya masyarakat khawatir apabila kebijakan ini benar-benar diterapkan akan menghambat sosialisasi pendidikan karakter pada anak sebagai pembelajar di sekolah.

Dilansir dari source regionaldaily.blogspot.com, menteri pendidikan dan kebudayaan Muhadjir Effendy menegaskan “rencana program belajar tambahan untuk jenjang SD dan SMP sifatnya kokurikuler jadi tidak ada mata pelajaran tambahan yang ada hanya kegiatan yang menggembirakan kegiatan kokurikuler yang nanti bisa merangkum tujuan tadi 18 karakter itu maksud kita jadi mohon sekali lagi untuk tidak menggunakan kata-kata full day karena itu memang sangat menyesatkan jadi sebetulnya adalah kegiatan tambahan kagiatan full kurikuler di sekolah” ujar Muhadjir Effendi selaku Mendikbud.

Sebagaimana kita ketahui bersama sudah banyak orang yang mendefinisikan bahwa pendidikan full day school di Indonesia merupakan model baru atau sistem pendidikan yang belum pernah diterapkan sama sekali di Indonesia. Padahal apabila kita telisik lebih jauh lagi sebenarnya model pendidikan seperti ini sudah ada sejak lama yaitu diterapkan di pondok pesantren.
Sebagai lembaga pendidikan agama sekaligus pendidikan umum, pondok pesantren sudah sejak dulu menerapkan proses belajar sehari penuh bahkan sampai larut malam untuk mendalami materi agama Islam selain ilmu pengetahuan umum yang diperuntukkan bagi para santrinya. Oleh karena itu, bukanlah hal tabu sebenarnya bagi masyarakat Indonesia untuk menerima ide tentang penerapan full day school dalam ranah pendidikan umum kita, baik di tingkat sekolah dasar mauipun di sekolah menengah.

Masyarakat berpendapat bahwa sekolah yang menerapkan full day school adalah sekolah yang berbasis agama atau sekolah internasional yang biasanya mendapatkan jam pelajaran tambahan dengan menerapkan sistem pengajarannya dimulai pukul 07.00 s.d. 16.00. Untuk sekolah yang berbasis pesantren, pola pendidikan full day school biasanya menerapkan sistem pendidikan yang dimulai dari pukul 07.00 s.d. 14.30 dengan materi pembelajaran yang bersifat umum kemudian dilanjutkan para santri mendapat tambahan jam pengajaran berupa materi agama setelah Ashar sampai malam pukul 22.00.

Full day school esensinya mempunyai sistem kurikulum yang tidak jauh berbeda dengan sistem kurikulum pada sekolah-sekolah pada umumnya. Hal yang membedakan adalah pada sistem full day school mempunyai kurikulum tersendiri yang dikelola oleh sekolah bersangkutan. Misalnya ada sekolah yang menerapkan sistem 5 hari belajar dan 1 hari difokuskan untuk menyalurkan bakat dan minat peserta didik melalui kegiatan ekstrakurikuler yaitu Senin sampai dengan Jumat diisi kegiatan pembelajaran hingga pukul 16.00 lalu khusus Sabtu diisi dengan keggiatan ekstrakurikuler. Tetapi ada pula yang menyiasatinya dengan 6 hari efektif tetapi dengan memadukan antara kegiatan intrakurikuler dengan ekstrakurikuler.

Di Indonesia sendiri untuk menerapkan full day school tidaklah mudah karena ada banyak kendala dan banyak faktor yang mempengaruhi sulitnya penerapan pola pendidikan ini. Beberapa factor yang kemungkinan menjadi kendala bagi pelaksanaan sistem ini seperti budaya, ekonomi, letak geografis, dll. Dari segi budaya, masyarakat Indonesia pada umumnya tidak terbiasa dengan membiarkan anak-anak berada di lingkungan sekolah selama kurang lebih 9 jam. Hal itu yang kemudian memicu berbagai opini di masyarakat berkaitan dengan isu penerapan sistem pendidikan full day school di Indonesia. Meski baru wacana full day school ini jika dilihat dari sisi psikologi mempunyai dampak positif dan negatif, jika dilihat dari dampak negatifnya full day school berpotensi membuat anak stress dan kelelahan serta dapat memicu anak tidak bisa mengekspresikan dan mengimplementasikan potensi dirinya.

Anak-anak akan cenderung kurang bersosialisasi karena setelah sekian lama berada di sekolah ketika anak-anak sampai di rumah dipastikan kondisi fisiknya akan mengalami penurunan sehingga waktu yang tersisa di rumah dipakai untuk memulihkann stamina mereka dengan beristirahat. Belum lagi jika sekolah menugaskan anak-anak berbagai pekerjaan rumah. Masih banyak lagi dampak negative dari sisi budaya orang Indonesia. Sedangkan untuk sisi positifnya, kegiatan full day school pada dasarnya dapat memaksimalkan potensi siswa dan mengurangi kegiatan siswa yang kurang bermanfaat dalam pengembangan kompetensi pendidikannya. (Fatkhul Inayah, S. Pd.-Pendidik di SMK Muhammadiyah Larangan Brebes)

Komentar
Tags:
About Author: panturabisnis