Desa Dukuhsalam, Kecamatan Slawi, Kab. Tegal mulai dikenal sebagai sentra kerajinan bambu dalam bentuk lampion. Inovasi kerajinan bambu tersebut dikembangkan oleh anak-anak muda yang aktif dalam karang taruna.

Kesibukan mengolah bambu terlihat di  rumah Sudi Atmojo di Desa Dukuhsalam Jl. Pemali RT 02 RW 05 Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal. Ada yang menganyam, ada juga yang memotong bambu. Mulai ukuran besar hingga menjadi ukuran kecil sesuai kebutuhan.

Berawal dari rumah Sudi Atmojo inilah, pemuda karang taruna Desa Duluhsalam, Kecamatan Slawi dikenal sebagai pemuda inovator kerajinan bambu.  Sejumlah pelajar, di antaranya pelajar SMA 1 Dukuhwaru, pernah belajar membuat kerajinan lampion bambu untuk tugas sekolah.

Pemilik Rumah Kerajinan Bambu Indah,  Sudi Atmojo menuturkan kecintaannya pada bambu berawal pada tahun 2016 hingga memproduksi aneka kerajinan bambu, bersama beberapa anggota karang taruna.

Ketekunan dan semangat belajar Sudi Atmojo inilah yang akhirnya mengantarkan nama desa dan karang taruna “Pangudi Luhur” desa Dukuhsalam sebagai sentra kerajinan bambu di tingkat kabupaten.

Produk lampion bambu dari Dukuhsalam diberi  nama yang unik. Seperti lampion bambu anti santet dan lampion bambu bojo ketikung.  “Nama lampion itu sengaja saya bikin agar cepet viral,” tutur Sudi.

Dengan peralatan sederhana, satu lampion dibikin selama tiga hari. Setiap lampion pun mempunyai perbedaan. Dari segi gelang yang ada di lampion, topi,  dan batik.
Bahan yang di gunakan untuk membuat lampion bambu  wulung, bambu tali, lem, lampu, kabel, pitingan dan peralatan lain nya.

Ketua Karang Taruna Syeman mengungkapkan, munculnya sentra kerajinan lampion bambu di Desa Dukuhsalam bisa menjadi ladang ekonomi   pemuda karang taruna. Biar pun masih sedikit.

Harga lampion bambu, untuk jenis lampion anti santet Rp. 150.000 dan lampion bojo ketikung yang bentuknya beda,  ada batik dan ukiran, harga Rp. 200.000. (*)

Komentar
Tags:
About Author: panturabisnis