fbpx

Daerah harus Mampu Ciptakan Brand Pariwisata

Fikri Faqih (paling kanan), dan Esthy Reko Astuty saat FGD di Bahari Inn. Foto: imam khifni for panturabisnis.com

 

 

PEMERINTAH daerah yang memiliki potensi pariwisata harus mampu menciptakan brand. Karena, brand tersebut mempunyai daya tarik untuk mengundang wisatawan yang tentu saja akan meningkatkan pendapatan daerah.

“Saat ini pariwisata Indonesia memiliki brand ‘pesona indonesia’. Untuk di luar negeri menggunakan brand ‘wonderful indonesia’,” ungkap Asdep Strategi Pemasaran Pariwisata Nusantara Dra. Watie Moerany S., M.Hum dalam acara Focus Group Discussion (FGD) Perancangan Strategi Pemasaran Pariwisata Nusantara Tahun Anggaran 2016.

 

Acara tersebut digelar oleh Kementerian Pariwisata di Hotel Bahari Inn Tegal, Jumat kemarin. Lebih lanjut Watie menerangkan secara teori tentang pengertian brand, manfaat dan pembuatan brand pesona indonesia.

Anggota DPR RI dari Komisi X Abdul Fikri Faqih yang juga menjadi pembicara FGD tersebut memaparkan potensi pariwisata dalam penguatan ekonomi nasional dan daerah. Ia mengutip kalimat yang pernah dilontarkan Menteri Pariwisata RI Dr Ir Arief Yahya MSc bahwa pariwisata sebagai penyumbang PDB, Devisa, dan Lapangan kerja yang paling mudah dan murah.

 

“Tahun 2013, pariwisata menyumbang devisa 10,054.1 juta US$, tahun 2014 11,166.3 juta US$, dan tahun 2015 12,578.6 juta US$. Pariwisata ini menempati posisi keempat penyumbang devisa terbesar,” ungkapnya di hadapan peserta yang berasal dari Kabupaten Tegal, Kota Tegal dan Brebes.

Foto imam khifni for panturabisnis.com

Melihat peran tersebut, Fikri Faqih berharap semua daerah bisa mengambil peluang potensi pariwisata, seperti Alam (gunung, hutan, pantai, danau, laut dan lainnya), sejarah, adat dan budaya serta kuliner.

“Kabupaten Tegal punya gunung, pantai, danau. Begitu juga Brebes. Kota punya pantai. Dan, banyak lagi potensi pariwisata yang perlu digali dan dikelola dengan baik,” ujar dia.

Sementara itu, Deputi Pemasaran Pariwisata Nusantara Esthy Reko Astuty sebelum memaparkan makalahnya menyapa peserta dengan kalimat pembuka menggunakan bahasa Tegal.

“Semalam saya belajar memakai bahasa Tegal,” ujarnya disambut tawa peserta. Ia selanjutnya memaparkan perancangan strategi pemasaran pariwisata nusantara. (pb)

Komentar
Spread the love

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *