BEBERAPA tas hasil rajutan yang ia tunjukkan terlihat eksklusif. Satu dengan lainnya tidak sama bentuk atau warna. Membuatnya pun butuh ketelatenan. Maka, jangan heran, harga tas hasil rajutan itu bisa mencapai ratusan ribu.

“Bahkan di pasaran, tas rajut bisa dijual jutaan rupiah,” ujar Dwi Yuni Wulandari saat ditemui di rumahnya di Jalan Demak 2 Gang Gurami I Margadana Kota Tegal.

Belajar Rajut Lewat Youtube

Baru dua tahun ia menekuni usaha rajutan. Dimulai tahun 2015, wanita kelahiran 29 Juni 1975 mencoba belajar merajut. Ia lihat turorial merajut dari Youtube. Namun tidak mudah belajar hanya lewat video.

“Akhirnya saya belajar ke teman yang sudah mahir,” ujarnya.

Proses belajar tidak terlalu lama. Ia pun mulai menghasilkan karya sesuai pesanan yang ada. Pesanan datang dari saudara dan teman-teman. Bahkan teman-teman anaknya yang masih duduk di bangku SMP juga pesan produk tas.

“Tas seperti ini sengaja saya pakaikan ke anak. Eh teman-teman anak banyak yang minat,” ujar dia seraya menunjukkan tas rajut kecil.

Tidak hanya memproduksi tas rajutan saja, sepatu yang diberi rajutan juga ia bisa membuatnya sesuai pesanan. Biasanya konsumen membawa contoh sendiri produk rajutan yang diinginkan.

“Dari contoh itu, saya harus bisa membuatnya.”

Karena pesanan belum begitu banyak, semuanya dikerjakan sendiri. Satu  buah tas rajut, bisa ia selesaikan dalam dua hari. Makin mudah produk pesanannya, makin cepat ia menuntaskannya.

“Sebenarnya ingin juga merekrut karyawan. Tetapi tidak mudah mendapatkan pekerja yang telaten merajut.”

Ingin Pasarkan Lewat Online

Ia juga ingin memasarkannya secara online. Namun pengetahuan tentang online belum ia mengerti. Jadi, pemasarannya hanya getuk tular atau dari mulut ke mulut saja.

“Saya masih produksi berdasarkan pesanan. Kalau online, apa bisa orang bisa menunggu barang jadi? Tapi saya denger ada yang cerita, jual rajut di online, pembelinya mau menunggu sampai barang jadi. Tas rajutan.”

Selama ia usaha kerajinan dari benang rajut belum pernah mengikuti pameran yang biasanya diadakan oleh pemerintah. Keterbatasan akses informasi dan jaringan membuat ia tidak dapat kesempatan ikut event-event pameran. Padahal produknya eksklusif dan punya nilai jual tinggi. (muhammad abduh)

Komentar
Tags:
About Author: panturabisnis