fbpx

Bunyamin atau Rizma

Tegal memang laka-laka. Termasuk dari golongan pahlawan tanda jasa. Setelah selama beberapa tahun terakhir, Bunyamin bersinar sebagai guru berprestasi pada level nasional, kini muncul fenomena lain: Rizma Uldiandari.
Sebelum ke sosok Rizma, panturabisnis.com akan mengulas guru SMP Negeri 1 Tegal dengan prestasi segudang di bidang inovasi pembelajaran: Bunyamin Yusuf. Guru kelahiran 09 Januari 1978 ini sangat berperan sebagai salah satu pembina ekstrakurikuler Englis Club telah mengantarkan siswa-siswi SMP Negeri 1 Slawi dalam ajang kompetisi berbasis Bahasa Inggris seperti lomba Speech Contest dan Story Telling.
Prestasi lain yang pernah diraih Bunyamin antara lain adalah Juara 1 Lomba Inobel Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 dan 2012. Pada tahun 2013, salah satu karya tulisnya dinobatkan sebagai Naskah Terbaik Lomba Inobel Tingkat Nasional, serta meraih Juara 1 pada Lomba Karya Ilmiah Inovasi Pembelajaran Tingkat Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014.
Di penghujung tahun 2014, satu prestasi kembali diraih oleh Bunyamin. Setelah meraih juara 1 pada Lomba karya Ilmiah Inovasi Pembelajaran Tingkat Provinsi Jawa Tengah, Bunyamin mengikuti kegiatan Forum Ilmiah Guru (FIG) Tingkat Nasional dan berhasil memperoleh juara 1 untuk FIG Jenjang SMP. Secara resmi dia diundang untuk menghadiri acara penyerahan penghargaan langsung dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Rasyid Baswedan, Ph.D pada tanggal 27 November 2014 bertempat di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta.
Puas? Ternyata tidak ada kata akhir untuk terus berprestasi bagi guru lulusan Pesantren Gontor itu. Di ujung tahun 2015, Bunyamin kembali meraih Juara III Guru SMP berprestasi tingkat nasional. Lagi-lagi Bunyamin!
Rizma?

Bila nama Bunyamin berkibar karena intelektualitas dan inovasi seorang guru, Rizma Uldiandari dikenal luas karena kecantikan dan pengabdiannya. Sederatan foto selfi yang diunggahnya di dunia maya membuat kehebohan baru di dunia maya.

Prestasi guru cantik berjilbab itu memang tidak sehebat Bunyamin. Namun, pengabdiannya patut diacungi jempol. Rizma hanya menerima honor Rp 75 ribu per bulan sejak bekerja enam tahun yang lalu di SDN 2 Karangmangu.

Altara Media Film sempat tertarik untuk mengajak Rizma menjadi bagian pembuatan sebuah film dokumenter tentang pendidikan, berjudul “Matematika Detik: Dari Tegal untuk dunia”. Namun, direktur PPMD (Pusat Pengembangan Matematika Detik) merasa keberatan.

“Matematika Detik sejak awal sebisa mungkin menghindari branding yang sifatnya sensasional. Matematika Detik adalah karya intelektual dan tidak boleh dihubungkan dengan sensasi dunia maya yang biasanya hanya berlangsung sekejap. Lihat kasus Norman Kamaru,” kata Arif Maulana, lulusan Teknik Kimia ITS yang sejak Juli 2016 ini memimpin PPMD.

Bagaimana kalau Bunyamin, Mr.Arif?

Komentar
Spread the love

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *