Bambang Siregar menyampaikan pendapatnya tentang komunis

DENGAN gaya bertutur, Thowaf Zuharon, mengisahkan kekejaman komunis dalam karya bukunya yang diberi judul Ayat-ayat yang  Disembelih. Termasuk di dalamnya kisah kekejaman Sakyani alias Kutil dalam peristiwa tiga daerah.

“Total korban kekejaman komunis, dari tahun 1917-1991, 120 juta jiwa di 76 negara telah mati dibunuh. Jika dihitung perhari, ada 4500 orang dibunuh. Atau 20 orang dibunuh perdetik,” ungkap Thowaf dalam seminar nasional dan bedah buku Ayat-ayat yang Disembelih, Selasa (24/5/2016) di hotel Plasa Tegal.
Pada saat ini, lanjut pria asal Klaten yang adik neneknya juga menjadi korban kekejaman PKI itu, ada upaya pemutarbalikkan fakta. Bahkan mereka yang mendukung komunis mempropagandakan bahwa keluarga PKI adalah korban.

“Mereka menuntut pemerintah meminta maaf kepada mereka. Dan, beberapa media massa mainstream turut mendukung. Media massa ini sudah tidak obyektif lagi dan hanya mementingkan arus gelombang duit,” ujar dia.
Pada acara yang diselenggarakan oleh HMI Tegal, Thowaf menegaskan bahwa komunis selalu menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Termasuk tidak akan segan-segan melakukan pembantaian.

Wakil Walikota Tegal membuka seminar nasional.

“Kalau ada yang bilang komunis ada baiknya, saya yakin yang ngomong itu belum tahu komunis!”
Seminar yang dibuka oleh Wakil Walikota Tegal Nursholeh makin gayeng saat Bambang Siregar, yang juga menjadi pembicara, mulai diberi kesempatan.

“Mas Kutil,” jawab Bambang saat Thowaf menanyakan namanya dan keduanya tertawa. Peserta seminar pun ikut tertawa.

Bambang Siregar mengatakan, saat ini adalah generasi cerdas yang membela kebenaran, keadilan dan kemanusiaan. Karena itu, segala wacana tentang komunis itu tidak perlu dilarang-larang, tetapi harus uji kritis.

“Generasi saya, hampir 30 tahun, sstt jangan ngomongi komunis! Kalau saat ini, yang perlu adalah uji kritis untuk menemukan fakta sejarah.”

Terkait dengan Kutil, Bambang menilai bahwa gerakan Tiga Daerah bisa dimaknai perlawanan terhadap pangreh praja atau elit pemerintahan yang dianggap otoriter, korup dan berpihak pada penjajah. Peristiwa tersebut terjadi saat bangsa Indonesia baru memproklamirkan kemerdekaan. Maka, ada yang mengatakan ini gerakan revolusi dalam revolusi. (pb)

Komentar

Anda perlu tahu info lainnya tentang:

  • ebook ayat ayat yang disembelih
Spread the love
Tags:
About Author: panturabisnis