fbpx

Budaya Paten

Paten?
Di kalangan industriawan atau pengusaha Tegal seloroh tentang “ilmu paten” begitu dikenal. Kunjungi saja sentra industri logam, kayu, plastik, batik dan sebagainya. Seolah paten telah menjadi budaya. Paten yang dimaksud bukan hak karya intelektual, melainkan “paten-patenan” (bahasa Tegal: saling berusaha membunuh).

Bagaimana budaya paten bekerja? Caranya dengan merebut pasar melalui penawaran harga yang lebih murah. Misalnya order awal suatu produk plastik ke pengusaha A adalah Rp 250 per unit. Pengusaha B menawarkan harga lebih murah. Pengusaha C lebih murah lagi hingga saat ini hanya Rp 70 per unit. Tentu saja harga yang begitu rendah berdampak pada laba yang sangat tipis bahkan minus. Atau mutu yang buruk.

BUDAYA PATEN JENIS BARU?

Tadi pagi panturabisnis.com berkunjung ke SINAR MAS, produsen lilin lampu. “Pandhawa” adalah merek andalannya, paling laris dan paling menguntungkan. Anehnya, kami tidak menjumpai merek itu. Kok bisa?

“Sekitar tiga bulan yang lalu saya memesan 10.000 unit kemasan di sebuah percetakan di Kota Tegal, untuk merek Pandawa dan Tiga Matahari. Tetapi barang mau diambil, saya hanya diberikan merek Tiga Matahari. Katanya mobil yang membawa merek Pandawa hilang, kena begal atau apa,” kata Masrukhin (45 tahun), pemilik SINAR MAS.

Mendengar alasan yang menurutnya tidak masuk akal, Masrukhin lalu melakukan penyelidikan. “Ternyata merek Pandawa digunakan oleh produsen lilin lain,” pungkas pria ceking asal Desa Bulakwaru, Kecamatan Tarub.

Komentar
Spread the love

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *