TRASA“TRASA itu di mana?”
“Di depan terminal Slawi.”
“Berarti di sebelah mana Taman Rakyat?”
“??!”

TRASA itu Taman Rakyat Slawi Ayu. Sebuah singkatan yang bagus. TRASA itu “terasa”, berkesan. Sayang sekali nama keren itu tidak didukung sarana pengenalan yang tepat.

Anda pernah melihat tulisan besar TRASA (lihat gambar)? Ribuan, mungkin jutaan orang berlalu lalang di depan TRASA. Itu bukan pernyataan berlebihan, karena TRASA berlokasi di jalur utama Tegal-Purwokerto, bahkan terletak tepat di depan terminal Slawi.

Sayang sekali, tulisan TRASA jarang sekali dilihat manusia. Alasannya cukup menggelikan, tulisan TRASA berwarna merah tersebut berdiri kokoh di bagian belakang TRASA. Siapa yang mau lihat?

BATIK KABUPATEN TEGAL

BATIK

Batik Kabupaten Tegal? Pemerintah Kabupaten Tegal berupaya keras untuk membuat branding “Batik Kabupaten Tegal”. Selama ini masyarakat lebih mengenal “Batik Tegalan”, dan nama itu –menurut sebagian pejabat–lebih merujuk ke Kota Tegal. Oleh karena itu,melalui berbagai kegiatan yang dibiayai oleh APBD, masyarakat Kabupaten Tegal dihimbau untuk menggunakan nama “Batik Kabupaten Tegal”, bukan “Bukan Batik Tegal”.

Apakah upaya branding semacam itu akan berhasil?

Mengubah apa yang ada sudah ada di benak masyarakat tidak mudah. Apalagi karena kemanfaatannya tidak jelas, branding Batik Kabupaten Tegal hampir mustahil berhasil. Sebelum orang bertindak, mereka pasti bertanya, “Apa manfaatnya bagiku?” Jika jawabannya negatif, tidak ada manfaatnya, mereka tidak mungkin bertindak.

Bagi sebagian besar masyarakat Tegal dan apalagi bagi calon konsumen batik, Tegal adalah Tegal. Pemisahan menjadi kota dan kabupaten adalah masalah administrasi, dan pecinta batik tidak peduli.Diferensiasi, yaitu bahwa batik Kabupaten Tegal adalah beda, adalah langkah sebelum branding. Oleh karena itu, membangun branding “Batik Kabupaten Tegal” adalah kegiatan kontraproduktif, tidak membuat terkenal maupun mendongkrak nilai jual.

Ada hal yang lebih penting untuk mendongkrak brand batik Kabupaten Tegal. Yaitu, membangun kesadaran branding di seluruh pemangku kepentingan batik. Brand itu bukan masalah kulit, melainkan urusan “ruh” produk. Brand adalah ibarat wajah yang memancarkan aura dan karisma.

Hal semacam branding, sesuatu yang sangat penting, justru luput menjadi perhatian pelaku industri kecil. Mereka memang membatik dengan hati, tetapi sayangnya ekspresi hati itu tidak terkomunikasikan dengan batik. karisma. Perhatikan gambar. Sangat mengenaskan batik yang dibuat dengan susah payah hanya ditulis dengan pulpen sekenanya “batik tulis, Rp 185”. Menyedihkan.

Maka, ke depan, idealnya potji.com –sebagai “lembaga baru” yang belum terkontaminasi dengan budaya kejumudan birokrat bisa mengambil tanggung jawab tersebut. Bukan hanya memperkenalkan , melainkan juga membangun brand produk Kabupaten Tegal. Mungkinkah?

Komentar
Spread the love
Tags:
About Author: panturabisnis