Penyuluh perindustrian blusukan ke produsen sapu di Desa Kepandean Kecamatan Dukuhturi

“Mas, di Kabupaten Tegal ada industri plastik?” tanya Haji Abdul Syakur, seorang pengusaha logam komponen telekomunikasi dari Desa Kalimati, Kecamatan Adiwerna. Pasalnya, plastik sangat terkait dengan logam dan pada saat itu beliau mendapat order produk plastik ribuan unit per minggu.

Tidak tahu! Walaupun secara resmi adalah PFPP (Pejabat Fungsional Penyuluh Perindustrian), penulis tidak pernah melihat industri plastik yang masih exist. Setelah dicek, memang tidak ada secuil pun data industri plastik di Dinas Perindustrian dan Perdagangan (DISPERINDAG).

Bagaimana faktanya di lapangan? Industri plastik begitu banyak dan telah berdenyut selama puluhan tahun. Sebagai contoh, tengok saja di Desa Mangunsaren, Kecamatan Tarub. Pak Haji, setelah blusukan sendiri, akhirnya menemukan dan menjalin kerjasama dengan pelaku industri plastik di Tembok Luwung, Kecamatan Adiwerna, sebuah wilayah yang selama ini dikenal sebagai sentra industri konfeksi. (Catatan: penulisan yang benar adalah “konfeksi”, dengan huruf “f”, bukan “konveksi”.

Blusukan Imajiner

Industri plastik hanya contoh. Banyak industri kecil tidak tersentuh oleh tangan pemerintah walau sebatas pendataan. Bahkan termasuk juga industri logam yang selama ini menjadi kebanggaan wong Tegal, hanya sebagian kecil yang terdata terutama yang masuk kategori industri komponen alat berat, kapal dan otomotif. Lebih khusus, Koperasi Mandiri Sejahtera di Kebasen dan Koperasi RRT (Rakitan Rakyat Tegal) di Bengle, keduanya masuk wilayah Kecamatan Talang, adalah segelintir komunitas pengusaha logam yang telah menikmati akses pemerintah secara berkelanjutan.

Guna meningkatkan kekuatan dan kemanfaatan, DISPERINDAG Kabupaten Tegal menjalin kerjasama dengan beberapa pihak. Antara lain dengan YDBA (Yayasan Dana Bhakti Astra) untuk membentuk LPB (Lembaga Pengembangan Bisnis) yang berkantor di kompleks LIK Takaru. Walaupun demikian, DISPERINDAG belum bisa memetakan industri logam di Kabupaten Tegal secara menyeluruh dan apalagi mendetail. Bahkan industri logam mulia (emas, perak dan tembaga), yang konon termasuk terbesar di Indonesia, belum terdata secara baik.

Bagaimana dengan jenis industri lain? Tentu saja industri di luar logam kuantitasnya jauh lebih besar. Sebut saja beberapa contoh industri: kulit (Pepedan, Kec. Dukuhturi), kayu (hampir merata di semua kecamatan), anyaman bambu (Kendal Serut, Kec. Slawi), batik (Pasangan dan Bengle, Kec.Talang), sarung ATBM (Pacul dan Wangandawa, Kec. Talang), sapu lidi dan latopia (Kepandean, Kec.Dukuhturi), tanah liat (Dukuhmalang, Kec.Talang) dan logam mulia (Pesayangan, Kec. Talang). Bahkan industri juga muncul di tempat yang tidak terduga, seperti konfeksi di Harjasari (Kec. Suradadi), lilin lampu di Bulakwaru (Kec. Tarub), bola soccer di Bumijawa sarung ATBM di Warureja dan minuman coklat Desa Grogol, Kec. Dukuhturi.

Mesin bubut komponen kapal hampir senilai 1 M hibah dari pemerintah untuk kelompok industri di Desa Kebasen, Kecamatan Talang.

 

Industri tumbuh, berkembang dan juga mati ada di mana-mana. Kabupaten Tegal sangat luas, 22 kali luas wilayah Kota Tegal. Industri juga sangat beragam dan dinamis. Meskipun telah disebutkan panjang lebar, tetapi data yang dipaparkan di atas jauh dari kata lengkap. Masalah kelengkapan data menjadi semakin seperti mission impossible karena data industri yang pernah masuk ke DISPERINDAG tidak direkam dengan baik. Ini sangat memprihatinkan. Apakah data industri di BPS lebih baik, padahal mereka juga mengambil data dari DISPERINDAG?

Oleh karena itu, database atau sistem informasi terpadu yang modern merupakan tuntutan mendesak. Beruntung DISPERINDAG memiliki Reza Dwi Anggono, ST. Dengan sukarela, seorang PFPP (Pejabat Fungsional Penyuluh Perindustrian) ini mengembangkan SINDIKAT (Sistem Informasi Indag Kabupaten Tegal) yang memungkinkan data industri dikelola secara digital. Sebuah permulaan sangat bagus yang layak ditindaklanjuti secara serius.

Data yang baik tentu saja data real dan aktual, bukan data imajiner atau usang. Jika tidak, ibarat dokter yang salah diagnosis, kebijakan DISPERINDAG yang diambil akan salah-sasaran. “Errors using inadequate data are much less than those using no data at all,” kata Charles Babbage, ahli matematika yang mencetuskan programmable computer. Jadi masalah berikutnya, dari mana data industri itu berasal? Siapa yang bertanggung-jawab mengenali dan mengedus permasalahan industri di lapangan?

Peran Penyuluh Perindustrian

Lebih kompleks daripada pertanian, masalah perindustrian sangat beragam. Memang sistem industri memiliki fungsi generik yang sama (pemasaran, keuangan, produksi dan sumber daya manusia) tetapi rinciannya dan variannya sangat beragam. Bahkan dalam jenis industri yang sama masalah sekalipun boleh jadi sangat berbeda. Ambil contoh industri sarung ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) di Warureja dan Wangandawa. Di Warureja, tenaga kerja berlimpah dan mesin kurang, di Wangandawa sebaliknya. Di Warureja, “pengusaha” hanya mengelola proses pemintalan, di Wangandawa keseluruhan proses produksi.

Hati-hati, karena dampak kesalahan memetakan masalah suatu unit industri berdampak tidak kecil. Salah diagnosis berarti malpraktik. Itulah penjelasannya sebab apa bantuan bahan baku dan peralatan ke sejumlah industri kecil tidak bermanfaat secara optimal. Karena pertimbangan tersebut di DISPERINDAG dibentuk Unit Pendampingan Langsung (UPL), dengan unsur utama adalah penyuluh perindustrian atau nama resminya PFPP (Pejabat Fungsional Penyuluh Perindustrian), yang bertugas, sesuai namanya, mendampingi industri kecil secara langsung di lapangan. “Penyuluh itu kerjanya di lapangan. Bila perlu, penyuluh tidak usah diberi kursi dan meja di kantor,” tegas Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Kementerian Perindustrian, Mujiono, pada pendidikan dan pelatihan (diklat) penyuluh dasar yang penulis ikuti.

Tentu saja ucapan kepala Pusdiklat tersebut bersifat hiperbolis. Administrasi dan koordinasi dengan kantor induknya tetap penting. Namun, tupoksi penyuluh memang seharusnya lebih dekat ke lapangan daripada ke administrasi sehingga bisa merasakan denyut nadi perindustrian. Sayang sekali, sebagai jabatan yang relatif baru, profesi penyuluh perindustrian masih kurang dipahami.

Tegas bahwa penyuluh bertugas lebih daripada sekadar petugas sensus. Melalui observasi langsung dan wawancara, ibarat seorang dokter, penyuluh harus bisa mendiagnosis masalah secara cermat dan benar, bukan hanya sekadar mencatat apa yang terlihat dan terdengar. Penyuluh perindustrian harus mampu memetakan masalah industri kliennya secara utuh dan mendalam untuk kemudian menemukan sumbatan masalah proses secara keseluruhan (bottleneck). Setelah itu, berperan menjadi mitra pengusaha untuk merumuskan pemecahan masalah. (ahmad thoha faz)

Komentar
Tags:
About Author: panturabisnis