• Mengenal Sosok Ustadz Muhammad Nur Yasin al-Hafidz

Dr Ainul Haris mengatakan, dirinya sudah tidak lagi menjadi ketua YNF. Pernyataan ini disampaikan guna menjawab tuduhan Ketua PBNU KH. Said Aqiel Siradj yang sebelumnya menyebut-nyebut namanya di beberapa media massa. “Saat ini saya bukanlah Ketua Yayasan Nida’ul Fithrah. Ketua Yayasan Nida’ul Fithrah sekarang adalah Muhammad Nur Yasin,” demikian pernyataan Ainul Haris yang antara lain dimuat oleh hidayatullah.com.

Ainul Haris sebelumnya dinyatakan lulus dalam program doctoral di IAIN Sunan Ampel Surabaya dengan disertasi berjudul, “Pemikiran Muhammad Ibnu Abdul Wahhab tentang Kenabian” dan berhasil dipertahankan di hadapan tujuh profesor di IAIN Surabaya hingga ia dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude.

Menyangkut tuduhan ajaran Syekh Muhammad Ibnu Abdul Wahab yang dinilai radikal dan cenderung bisa menjadi biang terorisme Ainul menampiknya. “Saya meneliti ajaran Muhammad Ibn Abdul Wahhab langsung dari berbagai sumber primer terutama karya Muhammad Ibn Abdul Wahhab yang berjumlah belasan jilid.”

Panturabisnis.com tidak bermaksud menelaah ajaran wahabi. Sebaliknya, panturabisnis.com hendak menelisik lebih jauh siapa Ustadz Muhammad Nur Yasin al-Hafizh, yang ternyata adalah asli orang Tegal.

“Kamis kemarin sore saya bersilaturrahim ke guruku di Pesantren Darussakinah Tegal. Beliau sehat segar-bugar. Hari ini, Jum’at pagi beliau wafat. Sungguh mengagetkan. Itulah kematian,” kata Yasin kepada panturabisnis.com pada Jumat kemarin (15/7).

Yang dimaksud “guruku” tentu saja KH Zainal Arifin al-Hafizh, guru semasa dirinya tahfizh al-Quran setelah sebelumnya lulusan Pesantren Gontor itu belajar hal yang sama kepada kyai kharismatik almarhum AG H Lanre Said di Pesantren Darul Huffadz Sinjai Sulawesi Selatan.

DARI SMP PENAWAJA, GONTOR HINGGA BERGABUNG KE “WAHHABI”

Sebenarnya, cita-cita Yasin adalah bisa kuliah di STAN dan bekerja sebagai PNS. Namun sang ayah, Ustadz Zainuddin Shiddiq berkehendak agar anak sulungnya itu taffaquh fid-din (paham agama). Maka setamat dari SMP Penawaja, dengan predikat sebagai juara umum, Yasin nyantri ke Pesantren Kesugihan Cilacap selama beberapa bulan sebelum kemudian ke Pesantren Gontor.

Di Gontor, putra Kemanggungan Kecamatan Tarub itu (3 km sebelah timur Brug Abang) selalu masuk kelas terbaik, kelas B. Sempat cuti setahun dari Gontor untuk memperdalam bahasa Inggris di Pare, Kediri, dan sempat menjadi juara 1 speech contest se-Kediri. Di Gontor itu pula Yasin mengenal dan terpesona dengan pemikiran Cak Nur dan Cak Nun. Yasin antara lain begitu terpengaruh dengan “Tiada tuhan selain Tuhan” dari Cak Nur.

Yasin berubah drastis sejak bekerja di Yayasan al-Sofwa, Lenteng Agung, Jakarta, di bagian tasjilat (perekaman kaset). Pemikirannya dari liberal berubah secara diametral menjadi radikal.

Pada tahun 2004, Yasin menikah dengan Maryam, gadis asal Kemandungan Tegal, yang baru didengar namanya beberapa hari sebelumnya, untuk bergabung ke Yayasan Nidaul Fithrah Surabaya. Setelah menikah dan hijrah ke Surabaya, kakak kandung Ahmad Thoha Faz, si penulis Titik Ba, itu melunak. Hanya Yasin tetap bersikap antipati dengan Cak Nur, idolanya dulu.

“Bakar buku Islam, Doktrin dan Peradaban!,” kata Yasin tapi tidak ditanggapi serius oleh sang adik. Thoha yang sempat juara lomba fahmil Qur’an tingkat Kota Tegal semasa di SMA Negeri 1 Tegal dan juara Ke-NU-an tingkat Provinsi Jawa Tengah telah menyelamatkan buku karya Cak Nur itu.

“Seperti saya sering berdebat dengan diri saya sendiri, meragukan pemikiran sendiri, saya sering berdebat dengan Ustadz Yasin. Namun sebagai adik, saya lebih banyak mengalah. Apalagi beliau seorang ustadz,” kata Thoha yang sekarang sedang membesarkan Poros Digital dan mengembangkan Matematika Detik. (pb)

Komentar
Tags:
About Author: panturabisnis