Oleh Reza Dwi Anggono, ST Penyuluh Perindustrian Disperindag Kab. Tegal

 

“This is the world’s most precious resource, and we have to control as much of it as we can.”

Sebait kalimat itu meluncur dari mulut Mathieu Amalric yang memerankan tokoh antagonis, Dominic Greene, dalam sebuah adegan film yang dirilis tahun 2008 silam, Quantum of Solace. Film tentang agen 007 yang pertama kali menampilkan James Bond dalam kondisi mabuk.

Greene yang dalam karakternya dicitrakan sebagai seorang pakar lingkungan, pengusaha, sekaligus tokoh kudeta di Bolivia. Ketika mengucapkan kalimat tadi, Greene sejatinya tidak sedang membahas tentang emas, batubara ataupun minyak. Melainkan air.
Ya, air-lah, sumber daya paling berharga di muka bumi ini. Ambisi jahatnya menguasai dunia, dia wujudkan dengan penguasaan sumber mata air. Singkat cerita, niat busuknya berhasil digagalkan oleh sang lakon utama, James Bond, agen 007 dari Inggris.
Meskipun ini hanya cerita fiksi, saya kira kita sepakat dengan Greene. Air adalah penyangga kehidupan paling dasar. Sebagian besar permukaan bumi diliputi oleh air,kira kira hampir 70%. Tubuh manusia malah lebih ‘becek’ lagi, 80% nya adalah air. Yang agak mengejutkan, pada tahun 2025, Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan ada sekitar 1,8 miliar manusia tinggal di negara yang mengalami kelangkaan air absolut dan dua per tiga populasi dunia dibawah bayang-bayang kekurangan air. Pasalnya,dari seluruh komposisi air di bumi, hanya 2 persen saja yang merupakan air segar yang dapat dikonsumsi. Tak mengherankan, apabila tidak dikelola dengan baik, air bisa menjadi sumber konflik di masa depan.

Problematika air rupanya tidak hanya terbatas pada ketersediaan pasokan saja. Kualitas air, baik itu air bersih maupun air minum, juga menjadi masalah tersendiri. Khusus air minum sendiri, kemajuan teknologi dan modernitas,mau tidak mau telah menyeret kita ke fase yang mungkin tidak pernah terbayangkan 1 – 2 abad silam. Air minum kini telah menjadi komoditas industri yang cukup menggiurkan. Asosiasi Perusahaan Air Kemasan Indonesia (Aspadin), mencatat setidaknya di Indonesia ada lebih dari 600 perusahaan dengan 2000 merek yang bertarung memperebutkan ceruk bisnis air minum dalam kemasan (AMDK). Di tingkat masyarakat bawah, kebutuhan akan air minum ditangkap oleh sebagian kalangan wirausaha dengan mendirikan usaha Depot Air Minum (DAM).

Pada skala lokal saja, di Kabupaten Tegal, ada hampir sekitar 397 Depot Air Minum yang tersebar di 18 Kecamatan (data Dinas Kesehatan Tahun 2015). Itu baru satu Kabupaten kecil, bisa kita bayangkan betapa banyak jumlahnya kalau Se-Nusantara.
Permasalahan pertama adalah, sudahkah air minum yang beredar di pasaran, entah itu air AMDK atau air DAM ini benar-benar berkualitas ? kedua, bagaimana mengatur tata niaga antar “Kakak Beradik” ini agar bisa berjalan selaras seirama ?
Berbeda dengan AMDK yang didominasi pemodal besar, Depot Air Minum (DAM) adalah salah satu penggerak ekonomi rakyat yang perlu didorong, sepanjang masyakat luas sebagai konsumennya jangan sampai dirugikan, utamanya dari sisi kesehatan.
Beberapa pelaku usaha DAM yang saya kenal, salah seorang diantaranya adalah mantan pelaut. Setelah mengumpulkan modal selama beberapa tahun di bekerja di kapal luar negeri, kini beliau berwirausaha dengan membuka usaha Depot Air Minum dan warung sembako kecil-kecilan.

Terkait dengan kualitas dan tata niaga depot air minum sebenarnya sudah ada Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 651/MPP/Kep/10/2004 tentang Persyaratan Teknis Depot Air Minum dan Perdagangannya. Salah satu yang ditekankan dalam peraturan ini adalah ketentuan dimana DAM hanya diperbolehkan menjual produknya secara langsung kepada konsumen di lokasi depot, dengan cara mengisi wadah yang dibawa oleh konsumen atau disediakan depot. DAM juga tidak diperbolehkan memasang segel pada wadah. Wadahnya pun tidak boleh bermerek. Secara eksplisit, DAM tidak diperkenankan untuk ‘mengemas’ produk air olahannya.

Sedangkan bagi pelaku industri AMDK sendiri yang berhak “mengemas” produk air minum, terikat dalam ketentuan Peraturan Menteri Permen Perindustrian No. 96/M-IND/PER/12/2011 tentang Persyaratan Teknis Industri Air Minum Dalam Kemasan. Dalam peraturan ini disebutkan bahwa industri AMDK wajib memiliki dan menerapkan SNI (Standar Nasional Indonesia) demi menjaga kualitas produk airnya.

Disinilah salah satu titik perbedaan antara AMDK dan DAM, yang mana masih banyak pelaku usaha depot air minum belum mengetahui.

Sementara jika ditilik dari kaidah kesehatan, air layak menjadi sorotan utama. Sebagai akibat penggunaan air yang tidak memenuhi syarat kesehatan, di Indonesia setiap tahunnya
diperkirakan lebih dari 3,5 juta anak dibawah usia tiga tahun terserang penyakit saluran pencernaan dan diare dengan jumlah kematian 3 % atau sekitar 105.000 jiwa.

Jika AMDK saja yang sudah ‘dikunci’ dengan kontrol dan persyaratan SNI yang begitu ketat, tetap punya peluang terkontaminasi zat yang bisa membahayakan tubuh. Lantas bagaimana untuk Depot Air Minum itu sendiri ?
Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Yogyakarta pada Tahun 2015 telah mengadakan uji petik dengan mengambil sample air ke beberapa Depot Air Minum di beberapa daerah, hasilnya menyimpulkan bahwa jika mendasarkan pada Permenkes No 492/MENKES/PER/IV/2010 ttg Persyaratan Kualitas Air Minum, maka kualitas air DAM secara umum masih belum cukup menggembirakan. Masih banyak yang perlu dibenahi.

Suharsa, S.ST, seorang ahli sanitarian dari Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Yogyakarta menyebutkan setidaknya ada 4 (faktor) yang berpengaruh pada kualitas Depot Air Minum. Pertama , sumber air baku yang akan diproses menjadi air minum. Kedua, mesin peralatan depot. Ketiga, lokasi tempat usaha. Keempat, SDM atau manusia yang mengelola depot. Baik atau buruknya kualitas Depot, tidak jauh-jauh disebabkan oleh empat hal tadi.
Untuk itu, nyata sudah bahwa butuh kolaborasi semua pihak agar ‘bisnis’ air ini tetap berjalan tanpa mengorbankan kesehatan masyarakat. Institusi pemasok air, Pemerintah sebagai pengawas dan regulator, serta saudara-saudara kita ‘pemain bisnis air’ itu sendiri adalah pihak-pihak yang memikul tanggungjawab itu.

Terakhir, sudah selayaknya kita sadari air adalah berkah Tuhan yang diberikan kepada kita. Ini yang patut kita jaga. Air sebagai jalan ‘kesehatan’ bagi manusia . Air pula sebagai jalan ‘rezeki’ bagi sebagian manusia yang lain. Keduanya penting dan terkadang saling kontradiktif. Tapi percayalah, selalu saja ada ‘jalan tengah’, sepanjang kita mampu mengatasi lawan terberat manusia, serakah.
Ya , serakah. seperti Dominic Greene. si pemodal besar, konglomerat air, yang mati kehausan di tengah gurun pasir.

Komentar
Tags:
About Author: panturabisnis